Film Indonesia terbaru....

 photo banner-panasqq-700x80_zpshe9foogl.gif

Menikmati 2 Vagina Sepet Yang Sexy Dan Montok Dalam 1 malam

5:45 PM Add Comment

DUNIA121.Seperti yang kujanjikan, beberapa teman kantorku akhirnya menjadi langganan pijatan Bu susi setelah aku mempromosikannya. Rupanya pijatannya benar-benar disukai para pria. Termasuk Pak Marmo, atasanku.
Bahkan ada dua temanku yang menanyakan kemungkinan untuk tidak sekadar mendapat layanan memijat dari Bu susi tetapi lebih dari itu. “Kayaknya bisa nggak To kalau Bu susi diajak begituan. Aku suka lho wanita tipe seperti dia. Sudah paruh baya tapi tubuhnya masih bagus dan terawat,” kata Rizal, teman sekantorku suatu hari setelah hari sebelumnya dipijat Bu susi di rumahnya.

 Rizal juga cerita, saat dipijat ia sempat menggerayang ke balik daster yang dipakai Bu susi. Tetapi ternyata, kata Rizal, Bu susi di samping memakai celana panjang ketat sebatas lutut juga memakai celana dalam rangkap. “Entah rangkap berapa celana dalam yang dipakainya. Aku sampai nggak bisa merasakan empuknya memek dia,” ungkap Rizal menambahkan.

Mendengar ceritanya aku jadi ingin ketawa sekaligus bangga. Sebab ide memakai pakaian seperti itu saat memijat memang atas saranku. Karena kuyakin para pria pasti tertarik untuk iseng dan coba-coba. Tetapi agar Rizal menjadi penasaran dan tetap menjadi langganan pijat, kukatakan padanya kalau aku tidak tahu bisa tidaknya Bu susi memberi layanan seks selain memijat.
“Selama ini sih aku hanya tahu ia tukang pijat yang baik dan pijatannya enak. Kalau sampai ke masalah itu saya tidak tahu. Mungkin kalau pendekatannya pas bisa saja ia mau melayani. Apalagi kan udah cukup lama ia ditinggal suaminya,” ujarku.
Pria lain yang juga terang-terangan menyatakan ketertarikannya pada Bu susi adalah atasanku. Bahkan setelah aku sering mengantar Bu susi untuk memijat, karena Pak Marmo lebih senang pijat di rumahnya, ia menjadi semakin dekat denganku. Aku juga dipercaya memegang sebuah proyek dengan nilai cukup besar, sesuatu yang belum pernah dipercayakan padaku.

Menurut Pak Marmo, pijatan Bu susi bukan hanya enak tetapi juga mampu menggairahkan kejantanannya. “Jangan cerita ke siapa-siapa ya. Saya dengan ibu sudah lama tidak jalan lho. Nggak tahu kenapa. Tetapi melihat pemijat tetanggamu itu dan mendapat pijatannya, sepertinya mulai agak bangkit. Suaminya sampai sekarang belum pulang?” kata Pak Marmo ketika aku menghadapnya di ruang kerja.
Pak Marmo mengundangku karena nanti malam jadwalnya dia dipijat Bu susi. Tetapi menurut dia, istrinya juga ada rencana belanja ke supermarket dan menemui salah satu koleganya pedagang permata. Selain mengantar Bu susi ke rumahnya, aku diminta bantuan menyopir mobil untuk mengantar istrinya.

Sebagai seorang bawahan terlebih karena kebaikannya mempercayakan sebuah proyek berdana besar kepadaku, kusampaikan kesediaanku. Namun sebelum aku keluar dari ruangannya ia kembali mencegah dan berbisik. “Eh Ton, kira-kira bisa nggak tukang pijat itu memberi layanan lebih? Kamu bisa bantu atur?”
Aku paham kemana arah pembicaraan atasanku itu. Maka seperti yang kusampaikan kepada dua temanku yang menjadi langganan pijat Bu susi, kukatakan bahwa selama ini yang kutahu ia hanya berprofesi sebagai pemijat dan soal yang lain-lain belum tahu. Hanya kepada Pak Marmo kukatakan akan mencoba melakukan pendekatan ke Bu susi.

Setelah keluar dari ruang kerja atasanku, aku menemui Bu susi. Sambil berpura-pura cemburu kuceritakan soal ketertarikan atasanku kepadanya. Tetapi juga kuceritakan tentang kebaikan Pak Marmo termasuk kepercayaannya memberikan proyek besar di bawah penangananku.

Bu susi cerita, setiap dipijat Pak Marmo memang berusaha merayunya. Juga berusaha menggerayang ke balik pakaian seperti temanku yang lain. “Tetapi kelihatannya punya Pak Marmo sudah sulit bangkit kok,” ujar Bu susi.

“Oh jadi cerita Pak Marmo soal kemampuan seksnya yang sudah berkurang itu bener?” Kataku pura-pura kaget.
“Jadi enaknya sikapnya gimana Pak Anto. Dia kan atasan bapak dan juga baik sama bapak,” ujarnya lagi.
Akhirnya dengan seolah-olah sebagai sesuatu yang sangat sulit untuk kuputuskan, kukatakan padanya bahwa karena kondisi kemampuan seks atasanku tidak normal maka sebaiknya Bu susi membantunya. Saat memijat, sebaiknya tidak memakai celana dalam rangkap tiga dan juga tidak memakai celana panjang di balik daster yang dipakai.

“Maksud saya agar Pak Marmo terangsang karena dia suka sama ibu. Memang resikonya Pak Marmo jadi leluasa menjahili ibu sih. Tetapi niatnya kan untuk membantu menyembuhkan dia. Gimana menurut ibu?”
“Kalau itu yang terbaik menurut Pak Anto saya sih nurut saja. Tetapi Pak Anto jangan cemburu ya,”
Bu susi langsung kupeluk. Kukatakan padanya bahwa sebenarnya aku sangat cemburu dan tidak suka tubuh Bu susi diraba dan dipegang-pegang orang lain. Tetapi demi menolong atasanku itu dan demi membalas kebaikannya aku akan berusaha untuk tidak cemburu. “Asal yang ini jangan diberikan semua ke Pak Marmo ya bu. Saya suka banget dengan yang ini,” ujarku sambil meraba memek Bu susi setelah menyingkap dasternya.

Tadinya aku berniat melepaskan hasratku untuk menyetubuhi tubuh montok tetanggaku itu. Tetapi setelah saling memagut dan hendak saling melepaskan baju, kudengar anak-anak Bu susi pulang dari sekolah. Hingga kuurungkan niatku dan langsung keburu menyelinap lewat pintu belakang.

Seperti yang kujanjikan, sekitar pukul 17.00 kujemput Bu susi dan kuantar ke rumah Pak Marmo. Bu susi memakai seragam baju terusan warna putih seperti yang biasa dipakai suster rumah sakit. Itu memang baju seragamnya saat memijat. Tetapi dari bentuk cetakan celana dalam yang membayang di pantatnya yang besar, kuyakin ia tidak pakai celana panjang dan celana dalam rangkap seperti biasanya. Rupanya ia benar-benar memenuhi janjinya untuk melayani Pak Marmo dengan lebih baik seperti yang kusarankan.

Kulihat Pak Marmo sedang menyiram bunga di halaman rumahnya saat aku datang. “Eh To, silahkan masuk. Tuh istriku udah uring-uringan karena sudah dandan dan siap berangkat,” ujarnya mempersilahkan.

Benar Bu Marmo sudah berdandan rapi dan siap pergi. Bahkan ia langsung menyerahkan kunci kontak mobil kepadaku. “Wah ibu takut Nak Anto telat datang. Soalnya selain belanja ibu kan harus ke rumah Bu Ramli, jadi takut kemalaman,” kata Bu Marmo.

Bu Marmo menyapa Bu susi ramah dan mempersilahkan masuk ke ruang tamu rumahnya. Ia meminta Bu susi menunggu karena suaminya belum mandi. Bahkan kepada Bu susi juga berpesan untuk istirahat di kamar tamu rumahnya kalau selesai memijat nanti ia belum pulang. “Santai saja Mbak susi nggak usah sungkan-sungkan. Kalau mungkin nanti saya juga ikut dipijat,” ujar Bu Marmo yang langsung mengahmpiriku yang sudah siap dengan mobil Kijang keluaran terbaru milik keluarga itu.

Usia Bu Marmo mungkin sebaya dengan Bu susi. Atau boleh jadi lebih tua satu atau dua tahun. Namun dengan pakaian stelan jas tanpa kancing yang dipadu dengan kaos warna krem di bagian dalam serta celana panjang ketat warna hitam senada, wanita itu tampak berwibawa.

Bau harum yang lembut dari wangi farfumnya membaui hidungku saat ia masuk ke dalam mobil. Ia menyebut nama sebuah suoermarket ternama hingga aku langsung menjalankan mobil perlahan. Untung aku yang biasanya hanya memakai T shirt, tadi memutuskan memakai baju lengan panjang meski untuk celana tetap memilih jins. Hingga tidak terlalu canggung mengantar istri atasanku.

Ukuran dan bentuk tubuh Bu Marmo nyaris sama dengan Bu susi, tinggi besar. Kakinya panjang dan kekar. Hanya perutnya relatif lebih rata, mungkin karena rajin senam dan olahraga hingga tubuhnya tampak lebih liat.

Awalnya pembicaraan lebih bersifat formal. Tentang bagaimana sikap kepemimpinan suaminya di kantor dan bagaimana penilaianku sebagai bawahan. Namun lama kelamaan perbincangan menjadi lebih cair setelah topiknya menyangkut keluarga. “Sebentar lagi cucu saya dua lho Nak Anto. Sebab Menik kemarin telepon katanya sudah hamil,” kata ibu beranak tiga itu.

“Kalau ngomongnya sama orang yang tidak tahu keluarga ibu nggak akan percaya kalau ibu sudah punya cucu,”
“Lho kok?”
“Soalnya dari penampilan ibu, orang pasti mengira usianya belum 40 tahun. Soalnya ibu terlihat masih muda dan energik,” kataku memuji.

“Ah bisa saja Nak Anto. Pujiannya disimpan saja deh untuk istri Nak Anto. Pasti istrinya cantik ya karena Nak Anto kan pandai merayu,”
Lewat kaca spion, wanita yang sehari-hari menjadi kepala sekolah di sebuah SD itu kulihat tak mampu menyembunyikan perasaan bangganya atas pujian yang kuberikan. Seulas senyum manis terlihat menghias wajahnya, wajah yang masih menyimpan sisa-sisa kecantikan di usianya yang sudah lebih dari setengah abad.

Melihat Bu Marmo aku jadi ingat Bu susi. Wanita itu pasti lagi sibuk memijat tubuh atasanku. Atau boleh jadi sambil memijat ia jadi terangsang karena tangan Pak Marmo yang menggerayang ke paha dan selangkangan atau di memeknya yang kini hanya dibalut satu buah celana dalam.

Membayangkan semua itu aku kembali melirik Bu Marmo yang ada di sebelahku. Perbedaan Bu susi dengan Bu Marmo mungkin hanya pada warna kulitnya. Kulit Bu susi lebih terang dan Bu Marmo agak gelap. Kalau teteknya, aku berani bertaruh payudara istri atasanku ini juga cukup besar ukurannya. Meski tertutup jas hitam dan kaos krem yang dipakainya, tonjolan yang dibentuknya tak bisa disembunyikan.
Di luar itu, yang pasti Bu Marmo lebih wangi dan boleh jadi tubuhnya lebih terawat. Sebab ia memiliki kemampuan keuangan yang memadai untuk merawat tubuh dan membeli parfum mahal. Tetapi begitulah hidup, rumput tetangga memang selalu nampak lebih hijau dibanding rumput di halaman sendiri.

“Sudah berapa lama ya Pak Marmo tidak menyentuh wanita berwajah manis ini? Ah aku juga mau kalau diberi kesempatan,” ujarku membathin sambil melirik bentuk kakinya yang panjang dan tampak indah dibalut celana hitam ketat.
Gara-gara terus-menerus melirik Bu Marmo, mobil yang kubawa nyaris menabrak becak. Untung Bu Marmo mengingatkan hingga aku bisa sigap menghindar. “Makanya jangan meleng! Kenapa sih, sepertinya Nak Anto ngelihatin ibu terus deh,”
“Ee.. ee.. anu.. eee ibu cantik banget sih,” jawabku sekenanya.
“Hush… orang sudah nenek-nenek dibilang cantik,”


Tanpa terasa mobil akhirnya memasuki pelataran parkir supermarket yang dituju. Tadinya aku berniat menunggu di tempat parkir sementara istri atasanku itu berbelanja. Tetapi Bu Marmo memintaku menemani masuk ke supermarket. Bahkan ia menggamit lenganku sambil berjalan di sisiku layaknya seorang istri pada suami.

Sebagai anak buah dari suaminya, sebenarnya aku agak canggung. Tetapi karena Bu Marmo terkesan sangat santai, aku pun akhirnya bisa bersikap wajar. Bahkan setelah berkali-kali tanpa disengaja lenganku menekan buah dada Bu Marmo yang kelewat merapat saat berjalan, aku mulai nekad mengisenginya. Sambil berjalan, siku lengan kiriku sengaja kutekan ke teteknya hingga kurasakan kelembutan buah dadanya.

 Entah tidak tahu ulah isengku atau tahu tetapi pura-pura tidak tahu, Bu Marmo bukannya menghindar dari siku lenganku yang ‘nakal’. Sambil terus melangkah di sisiku untuk melihat-lihat barang-barang di supermarket posisi tubuhnya malah kian merapat. Akibatnya tonjolan buah dadanya kurasakan ikut menekan lenganku. Aku juga mulai bisa memperkirakan seberapa besar tetek istri atasanku itu.
Sebenarnya aku kurang begitu suka mengaantar istri berbelanja. Sebab biasanya, istriku suka berlama-lama khususnya ketika berada counter pakaian. Begitu pun Bu Marmo, hampir setiap baju dan gaun wanita yang menarik hatinya selalu didekati dan beberapa diantaranya dicobanya di kamar pas.
Namun aku yang biasanya jenuh dan menjadi bersungut-sungut, kali ini malah menikmatinya. Sebab sambil menunggu wanita itu memilih baju-baju yang hendak dibelinya, aku jadi punya banyak kesempatan untuk melihat bentuk tubuh istri atasanku itu. Saat kuamati dari belakang, wanita yang usianya sudah kepala empat itu ternyata masih lumayan seksi.
Dalam balutan celana ketat yang dipakainya, pinggul dan pantat Bu Marmo benar-benar aduhai. Apalagi celana dalam yang dipakainya jadi tercetak sempurna karena ketatnya celana warna hitam yang dikenakan. Aku terus melirik dan mencari kesempatan untuk menatapnya saat Bu Marmo membungkuk atau memilih-milih pakaian yang menjadikan posisi pantatnya menonjol.
Saat hendak mencoba baju yang diminatinya di kamar pas, Bu Marmo menitipkan tasnya padaku sambil meminta berada tak jauh dari lokasi kamar pas. Lagi-lagi goyangan pinggul dan pantat besarnya menggoda mataku saat ia melangkah. Pikiranku jadi menerawang membayangkan Bu susi. Ada perasaan cemburu karena kuyakin Pak Marmo lagi berusaha merayu atau malah sudah berhasil menaklukkan Bu susi dan tengah menikmati kemontokkan tubuh wanita itu. Ah andai Bu Marmo bisa kurayu atau membutuhkan layanan seksku, ujarku membathin.
Aku merasakan adanya peluang untuk itu ketika kudengar Bu Marmo memanggilku dari kamar pas. Dengan tergesa aku menuju ke kamar pas yang letaknya agak terpencil dan tertutup oleh display aneka pakaian di supermarket tersebut. Namun di lokasi itu, istri atasanku tak kunjung keluar dan menyampaikan maksudnya memanggilku hingga aku nekad melongokkan kepala dengan menyibak tirai kamar pas.
Ternyata, di kamar pas Bu Marmo dalam keadaan setengah telanjang. Karena setelah mencoba baju dan celana yang hendak dibelinya ia belum memakai pakaiannya lagi. Hanya BH dan celana dalam krem yang menutup tubuhnya. Maka yang semula hanya bisa kubayangkan kini benar-benar terpampang di hadapanku.
Wanita yang usianya tidak muda lagi itu, benar-benar masih menggoda hasratku. Teteknya nampak agak kendur, tetapi besar dan bentuknya masih bagus. Pahanya mulus tanpa cela. Hanya meskipun perutnya tidak membuncit seperti perut Bu susi, namun terlihat bergelombang dan ada beberapa kerutan. Maklum karena faktor usia. Sedangkan gundukkan di selangkangannya benar-benar membuatku terpana, besar dan membukit. Bisa kubayangkan montoknya memek Bu Marmo dari apa yang tampak oleh cetakan pada celana dalam yang membungkusnya.

Dan anehnya kendati tahu akan kehadiranku, ia tak merasa jengah atau mencoba menutupi ketelanjangannya. Bahkan meskipun mataku terbelalak dan terang-terangan menjilati ketelanjangannya. “Ih kayak yang nggak pernah lihat perempuan telanjang saja. Nak tolong ke sales untuk bajunya ganti nomor yang lebih besar sedikit. Yang ini kekecilan,” ujarnya tetap santai.
Saat kembali seusai menukar baju pada sales, Bu Marmo memang telah memakai kembali celana panjang warna hitamnya. Tetapi di bagian atas tetap terbuka. Bahkan tanpa menyuruhku pergi, ia segera memakai pakaian yang kusodorkan untuk dicobanya dihadapanku. “Menurut Nak Anto, ibu pantes nggak pakai pakaian model seperti ini,” ujarnya meminta komentarku.
“Ee.. ee bagus. Seksi banget,”
“Hus dimintai pendapat kok seksi.. seksi. Seksi apaan sih,”
“Ee maksud saya dengan pakaian itu ibu terlihat makin cantik dan seksi,” kataku yang tidak berkedip menikmati kemewahan buah dadanya.

Entah karena pujianku atau menganggap baju itu memang sesuai seleranya, Bu Marmo akhirnya memutuskan membelinya di samping beberapa stel pakain lainnya. Hanya ketika aku menemani di counter pakaian dalam dan ia memilih-milih BH nomor 36B, sambil berbisik kuingatkan bahwa nomor itu terlalu kekecilan dipakai olehnya.
“Ih sok tahu,” ujarnya lirih.
“Kan tadi sudah dikasih lihat sama ibu,”
Bu Marmo mencubit pinggangku. Tetapi tidak sakit karena cubitan mesra dan gemas. Kalau bukan ditempat keramaian, rasanya aku sudah cukup punya keberanian untuk memeluk atau mencium istri atasanku itu. Karenanya setelah membayar semua yang dibelinya, saat keluar dari supermarket lengannya kugamit untuk meyakinkannya bahwa aku pun tertarik padanya.
Seperti tujuannya semula, setelah dari supermarket Bu Marmo berniat ke rumah temannya untuk urusan pembelian perhiasan. Tetapi menurutnya ia agak lapar dan ingin menu ikan bakar. Maka seperti yang dimintanya, mobil pun meluncur ke kawasan pantai di mana terdapat rumah makan yang berbentuk saung-saung terpisah dan tersebar dan khusus menjual aneka menu seafood.

Setelah memesan beberapa menu dan minuman, kami menuju ke salah satu saung paling terpencil dan tertutup rimbun pepohonan. Tadinya Bu Marmo memprotes karena menurutnya tempatnya terlalu gelap dan terpencil. Tetapi saat tanganku melingkar ke pinggangnya dan kukatankan bahwa lebih gelap lebih asyik, protesnya yang boleh jadi cuma pura-pura segera berhenti dan hanya sebuah cubitan darinya sebagai jawabannya.
Dari pinggangnya tanganku meliar turun merayap di pantatnya. Dari luar celana ketat yang dipakainya, pantat besarnya kuraba. Bokongnya yang lebar masih lumayan padat, hanya agak sedikit turun. Dengan gemas kuusap-usap dan kuremas pantat Bu Marmo. Lagi-lagi ia tidak menolak dan bahkan kian merapatkan tubuhnya. Maka setelah di dalam saung, ia langsung kupeluk dan kulumat bibirnya.

Sejenak ia tidak bereaksi. Hanya diam membiarkan lidahku bermain di rongga mulutnya. Namun setelah tanganku merayap di selangkangannya dan menelusup masuk ke dalamnya melalui risleting celananya yang telah kuturunkan, pagutanku di mulutnya mulai mendapatkan perlawanan. Bibir dan lidah Bu Marmo ikut aktif melumat dan memainkan lidahnya.
Memek istri atasanku itu tak cuma tebal, tapi juga lebar dan membusung. Itu kurasakan saat telapak tanganku mengusap dari luar celana dalam yang dipakainya. Tetapi nampaknya tak berambut. Permukannya terasa agak kasar karena munculnya rambut-rambut yang baru tumbuh. Sepertinya ia baru mencukur bulu-bulu jembutnya itu.
Namun saat aku hendak lebih memelorotkan celana panjangnya agar leluasa meraba dan mengusap memeknya Bu Marmo mencegah. “Jangan Nak Anto, nanti ada orang. Kan pelayan belum ke sini buat nganterin pesanan makanan kita,” sergahya.
“Ii… ii.. iya Bu,”
Benar juga, ujarku membathin. Aku terpaksa menahan diri untuk tidak meneruskan niatku memelorotkan celana panjang yang dipakai Bu Marmo. Hanya usapan dan rabaanku di busungan memeknya tak kuhentikan. Bahkan sesekali aku meremasnya dengan gemas karena keinginan untuk memasukkan jariku ke lubang nikmatnya tak kesampaian.
Diobok-obok di bagian tubuhnya yang paling peka, kendati masih di luar celana dalamnya, Bu Marmo mendesah. Pelukannya semakin ketat dan lumatannya di bibirku makin menjadi. Rupanya wanita yang usianya sudah di atas kepala lima itu mulai terbangkitkan hasratnya.

Aku dan Bu Marmo baru melepaskan pelukan dan segera berbenah setelah dari jauh kulihat dua pelayan wanita membawa nampan berisi makanan dan minuman yang kami pesan. Selembar uang pecahan Rp 20 ribu kusisipkan di nampan salah satu pelayan perempuan setelah mereka selesai menghidangkan yang kami pesan. “Terima kasih dan selamat menikmati,” kata keduanya sambil melemparkan senyum dan beranjak meninggalkan saung yang kami tempati.

Tetapi bukannya makanan yang terhidang yang kuserbu setelah kedua pelayan meninggalkan saung. Dari arah belakang kudekati dan kupeluk Bu Marmo yang di tikar saung yang menyajikan makanan secera lesehan itu. “Tidak makan dulu Nak Anto?” ujar Bu Marmo.

Tetapi aku tak peduli pada apa yang dikatakan istri atasanku itu. Hasrtaku lebih besar untuk segera menikmati kehangatan tubuhnya ketimbang makanan yang tersaji. Hingga setelah membenamkan wajahku ke keharuman rambutnya, tanganku langsung meliar, Meremasi teteknya dari luar t shirt warna krem yang dipakai dibalik jaketnya yang tak terkancing.
Seperti tetek Bu susi, susu Bu Marmo juga sudah agak kendur. Tapi dari segi ukuran, nampaknya tak jauh beda. Besar dan empuk, entah bentuk putingnya. Sambil kuciumi tengkuk dan lehernya, tanganku merayap ke balik t shirt yang dipakainya. Kembali aku meremas teteknya dan kali ini langsung dari BH yang membungkusnya. Kelembutan buah dada Bu Marmo baru benar-benar dapat kurasakan setelah aku berhasil merogoh dan mengeluarkannya dari BH.

Bu Marmo mulai menggelinjang dan mendesah saat aku meremas-remas teteknya perlahan dan memainkan puting-putingnya. Ia menyandarkan tubuh ke dadaku seakan memasrahkan tubuhnya padaku. “Sshhh….aaahhh….. sshhh….aahhh… ibu sudah lama tidak begini Nak Anto,” ujarnya mendesah.
“Lho kan ada Pak Marmo,” kataku menyelidik.
“Dia jarang mau diajak dan sudah sulit bangun itunya,”
Meski sudah mendengar langsung dari Pak Marmo aku agak kaget karena ternyata cerita atasanku itu benar adanya. Pantesan Bu Marmo merasa tidak ada masalah meninggalkan suaminya dipijat wanita lain berdua di rumahnya.

Ternyata wanita yang ada dalam pelukanku ini sudah lama tidak dijamah suaminya. Membayangkan itu aku makin terangsang. Jas hitam yang dipakai Bu Marmo kulepas dari tubuhnya. Namun saat hendak kulepas kaos krem yang dikenakan dibalik jaket, wanita istri atasanku itu mencegah. “Takut nanti ada yang ke sini Nak Anto,” ujarnya.

Meski aku telah membujuknya bahwa tak mungkin ada pelayan yang datang kecuali tombol bel yang ada ditekan untuk memanggil, Bu Marmo tetap menolak. Menurutnya ia tetap merasa was-was karena berada di ruang terbuka. “Kalau celana dalam ibu saja yang dibuka nggak apa-apa,” katanya akhirnya.
Agak kecewa sebenarnya karena aku ingin melihat tubuh istri atasanku dalam keadaa bugil. Tetapi membuka celana berarti memberiku kesempatan melihat memeknya. Bagian yang paling ingin kulihat pada tubuh Bu Marmo karena saat di kamar pas supermarket, bagian membusung di selangkangannya itu masih tertutup celana dalam.

Tanpa membuang kesempatan, segera kubaringkan Bu Marmo di lantai saung yang beralaskan tikar itu. Kubuka kancing celana hitam yang dipakai dan kutarik risletingnya. Kini kembali kulihat gundukan memeknya yang masih dibungkus celana dalam krem. Aku menyempatkan membelai memek istri atasanku itu dari luar celana dalamnya sebelum menarik dan memelorotkan celana panjangnya. Benar-benar tebal, besar dan masih cukup liat.

Aku makin terpana setelah memelorotkan celana dalamnya dan membuat tubuh bagian bawah Bu Marmo benar-benar bugil. Memeknya benar-benar nyempluk, membusung dan tanpa rambut. Kalau dibiarkan tumbuh mungkin jembut di memek Bu susi masih kalah lebat. Namun Bu Marmo rupanya lebih senang mencukurnya, hingga nampak gundul dan polos.

Memek tembemnya itu terasa hangat saat aku menyentuh dan membelainya. Tetapi sekaligus terasa kasar karena bulu-bulu jembutnya mulai tumbuh. Aku yang menjadi makin terangsang dan tak sabar untuk melihat itilnya, segera membuka posisi kaki Bu Marmo yang masih merapat.
Ah lubang memeknya ternyata sudah lebar, menganga diantara bibir kemaluannya yang tebal dan berkerut-kerut. Bibir kemaluannya coklat kehitaman. Tetapi itilnya yang mencuat menonjol di bagian atas celah memeknya nampak kemerahan. Aku tak lagi bisa menahan diri. Langsung kukecup memeknya dengan mulutku. Memek Bu Marmo ternyata sangat terawat dan tidak berbau. Ia mendesah dan makin melebarkan kangkangan pahanya saat lidahku mulai menyapu seputar bibir luar vaginanya.
Lidahku terus menjelajah, melata dan merayap seolah hendak melumasi seluruh permukaan tepian labia mayoranya.kumainkan kacangnya yang kemerahan Bahkan dengan gemas sesekali bibir vaginanya yang telah menggelambir kucerucupi. Membuat Bu Marmo mendesis mengangkat pantat menahan nikmat. “Aakkhhh… sshhh… shhh… aahhh…. ookkhhh…. ssshhhh,” rintih wanita itu mengikuti setiap sapuan lidah dan cerucupan mulutku di memeknya.

Sambil mendesis dan mendesah, kulihat Bu Marmo meremasi sendiri susunya dari luar kaos warna krem yang dipakainya. Rupanya ia sangat menikmati sentuhan awal oral seks yang kuberikan. Aku yang memang berniat memberi kesan mendalam pada persetubuhan pertama dengan istri atasanku itu, segera meningkatkan serangan. Dengan dua tanganku bibir memeknya kusibak hingga terlihat lubang bagian dalam kemaluannya. Lubangnya cukup sempit dan terlihat basah.

Ke celah lubang nikmat itulah lidahku kujulurkan. Terasa asin saat ujung lidahku mulai memasuki lorong kenikmatannya dan menyentuh cairan yang keluar membasah. Aku tak peduli. Ujung lidahku terus terulur masuk menjelajah ke kedalaman yang bisa dijangkau. Bahkan di kedalaman yang makin pekat oleh cairan memeknya, lidahku meliar. Melata dan menyodok-nyodok. Akibatnya Bu Marmo tak hanya merintih dan mendesah tapi mulai mengerang.

“Aahhkkkhhh…. aaahhh…. oookkkhhhh… enak banget Nak Anto. Oookkh.. terus.. Nak, aaakkkhhhhh,” erangnya kian menjadi.

Bahkan ketika lidahku menjilat itilnya, tubuh istri atasanku itu mengejang. Ia mengangkat tinggi-tinggi pinggulnya. Seolah menjemput lidahku agar lebih dalam menggesek dan mendesak ke kelentitnya. Kesempatan itu kugunakan untuk menempatkan kedua tanganku untuk menangkup dan menyangga pantatnya. Dan sambil terus menjilati itilnya kubenamkan wajahku di permukaan memeknya sambil menekan dan meremas-remas pantatnya.

Kenikmatan tak tertahan yang dirasakan Bu Marmo akibat jilatan-jilatan di kelentitnya membuat gairah wanita itu makin memuncak. Kakinya mengelonjot dan menyepak-nyepak sambil erangannya makin menjadi. Bahkan kepalaku dijambaknya. “Ahh.. ahhh.. ooohh ….aaaauuuhhhhh…. enak.. sshhh…. sshhh…. aahhh enak banget. Ibu nggak tahan Nak Anto, aaahhh…. aahhhh,” sesekali tangannya berusaha menjauhkan kepalaku dari memeknya.

Tetapi aku tak peduli. Jilatan lidahku di itilnya bukannya kuhentikan tetapi makin kutingkatkan. Bahkan dengan gemas, bagian paling peka di kemaluannya itu kucerucupi dan kuhisap-hisap. Akibatnya ia tak mampu bertahan lebih lama. Pertahanannya jebol. Kedua pahanya yang kekar menjepit kencang kepalaku dan menekan hebat hingga wajahku benar-benar membenam di memeknya.

Berbarengan dengan itu ia memekik dan mengerang kencang namun tertahan. Cairan kental yang terasa hangat juga kurasakan menyemprot mulutku uang masih menghisap itilnya. Saat itulah aku tahu Bu Marmo baru saja mencapai puncak kenikmatannya. Rupanya, upayaku untuk membuatnya orgasme tanpa mencoblos memeknya dengan kontolku berhasil.

Setelah beberapa lama, nafas Bu Marmo yang sempat memburu berangsur pulih seiring dengan mengendurnya jepitan paha wanita itu di kepalaku. Hanya ia tetap terbaring. Mungkin tenaganya terkuras setelah puncak kenikmatan yang didapatnya. Kesempatan itu kugunakan untuk menyeka dan membersihkan mulutku memakai serbet makan yang tersedia bersama sejumlah menu makanan yang belum sempat kami sentuh.


 Aku baru saja menenggak habis segelas teh manis hangat yang sudah diingin saat Bu Marmo menggeliat dan terbangun. Kulihat ia tersenyum padaku. Senyum yang sangat manis. Mungkin sebagai ungkapan terima kasih atas yang baru kuberikan dan sudah lama tidak diperoleh lagi dari suaminya. “Nak Anto sudah lapar? Kalau lapar makan dulu deh,” ujarnya.
“Saya sudah kenyang kok Bu,” jawabku.
“Kenyang apa, wong baru minum teh saja kok,”
“Bukan kenyang karena makanan. Tetapi karena menjilati memek ibu yang mantep banget,” candaku sambil menatapi busungan memeknya.
“Ih dasar. Ibu bener-bener nggak tahan lho Nak Anto. Soalnya sudah lama banget nggak dapat yang seperti tadi,” ujarnya tersipu.

Rupanya ia juga baru sadar bahwa bagian bawah tubuhnya masih telanjang. Celana dalam warna krem miliknya yang teronggok segera diambil dan Bu Marmo berniat untuk memakainya. Namun aku langsung mencegah. Kurebut dari tangannya dan kulempar agak jauh darinya. “Jangan ditutup dulu dong Bu. Saya masih belum puas lihat punya ibu,” kataku sambil mengusap memeknya.
“Nak Anto tidak pengin makan dulu?”
“Nanti saja ah. Perut saya sih belum lapar. Tapi kalau yang ini sudah lapar sejak tadi,” ujarku sambil menurunkan risleting celanaku dan mengeluarkan isinya dari celana dalam yang kupelorotkan.

Kontolku keras dan tegak mengacung sempurna. Urat-uratnya terlihat menonjol melingkari sekujur batangnya yang hitam dan berukuran lumayan besar. Bu Marmo tampak terpana melihatnya. “Punya saya hitam dan jelek ya Bu,” kataku memancing.
“Bukan.. bukan karena itu. Tapi ukurannya.. kok gede banget,”
“Masa? Tapi ibu suka sama yang gede kan?” Kataku sambil merubah posisi menggeserkan bagian bawah tubuhku mendekat ke istri atasanku. Aku berharap ia tak hanya menatap senjataku tapi mau mengelusnya atau bahkan mengulumnya. Sementara tanganku tetap merabai dan mengusap-usap memeknya yang tebal.

Bu Marmo ternyata cepat tanggap dan mengerti apa yang kuinginkan. Batang zakarku digenggamnya. Tetapi ia hanya mengelus dan seperti mengamati. Mungkin ia tengah membandingkan senjata milikku dengan kepunyaan suaminya. “Beda dengan milik bapak ya bu. Punya saya memang sudah hitam dari sananya kok,” candaku lagi.

“Ih.. bukan begitu. Punya Nak Anto ukurannya nggilani. Kayaknya marem banget,” ujarnya tersenyum. Wajahnya tampak dipenuhi nafsu.
Akhirnya, Bu Marmo benar-benar melakukan seperti yang kuharapkan. Setelah mengecu-ngecup topi baja kontolku, ia mulai memasukkan ke dalam mulutnya. Awalnya cuma sebagian yang dikulumnya. Selanjutnya, seluruh batang zakarku seperti hendak ditelannya. Mulutnya terlihat penuh karena berusaha memasukkan seluruh bagian tonggak daging milikku yang lumayan besar dan panjang.
Wanita istri atasanku itu ternyata cukup pandai dalam urusan kulum-mengulum. Setelah seluruh bagian batang kontolku masuk ke mulut, ia menghisap sambil menarik perlahan kepalanya. Begitu ia melakukannya berulang-ulang. Aku mendesah oleh kenikmatan yang diberikan. “Oookkhhh… sshhh…. oookkkhhhhh…. enak banget… aakkkkhhhh…. terusss…. aaakkkkkhhhhhh,” desisku.
Sambil terus melumati batang kontolku, tangan Bu Marmo juga menggerayang dan memainkan biji-biji pelir milikku. Kalau bukan di rumah makan mungkin aku sudah mengerang dan melolong oleh sensasi dan kenikmatan yang diberikan. Sebisaku aku berusaha menahan agar tidak sampai rintihanku terdengar orang lain.

Untuk melampiaskannya, aku mulai ambil bagian dalam permainan pemanasan yang dilakukannya. Aku harus bisa mengimbangi permainan Bu Marmo. Kedua pahanya kembali kukangkangkan dan wajahku kembali kubenamkan di selangkangannya. Bu Marmo sebenarnya belum sempat mencuci memeknya setelah lendir kenikmatannya keluar saat orgasme sebelumnya. Tetapi aku tak peduli. Memek wanita yang sudah dipanggil nenek itu kucerucupi.

Bahkan jilatan lidahku tidak hanya menyapu bagian dalam lubang memek dan kelentitnya. Tetapi juga melata di sepanjang alur liang nikmatnya yang menganga namun juga ke tepian lubang duburnya. Saat aku menjilat-jilat tepian lubang anusnya Bu Marmo menggerinjal dan memekik tertahan. Mungkin kaget karena tak menyangka lidahku bakal menjangkau bagian yang oleh sementara orang dianggap kotor.
Tetapi itu hanya sesaat. Setelah itu ia kembali melumati dan menghisapi batang kontolku sambil mendesah-desah nikmat. Karenanya aku makin fokus dan makin sering kurahkan jilatan lidahku ke lubang duburnya sambil sesekali meremasi bongkahan pantat besarnya.
Pertahananku nyaris jebol saat mulut Bu Marmo mulai mencerucupi biji pelir kontolku. Untung Bu Marmo mengambil insiatif menyudahi permainan pemanasan itu. Ia memintaku segera memasukkan rudalku ke liang sanggamanya. “Ahhh… sudah dulu ya. Sudah nggak kuat pengin merasakan batang Nak Anto yang gede ini nih,” kata Bu Marmo seraya melepaskan batang kontolu dari genggamannya.
“Ii.. iiya bu, saya juga sudah pengin banget merasakan memek ibu,”
Aku mengambil ancang-ancang di antara paha Bu Marmo yang mengangkang lebar. Lubang bagian dalam kemaluannya yang menganga terlihat kemerahan . Sepertinya lubang nikmat Bu Marmo telah menunggu untuk disogok. Memang sudah lama tidak ditengok karena kemaluan suaminya yang mulai loyo. Kepala penisku yang membonggol sengaja kuusap-usapkan di bibir luar memeknya yang sudah amburadul bentuknya. Bahkan ada sebentuk daging mirip jengger ayam yang menjulur keluar. Entah apa namanya karena aku baru melihatnya.

Bu Marmo mendesah saat ujung penisku menyentuh bibir kemaluannya. Meski nafsuku kian membuncah melihat memek tembemnya yang menggairahkan, aku berusaha menahan diri. Bahkan ujung topi baja rudalku hanya kumainkan untuk menggesek dan mendorong gelambir daging mirip jengger ayam di memek Bu Marmo. Sedikit menekannya masuk dan menariknya kembali.

Akibatnya Bu Marmo merintih dan memintaku untuk segera menuntaskan permainan. “Ayo Nak Anto… jangan siksa ibu. Masukkan kontolmu.. ssshhh… aahh… sshh ahhh ayo nak,”
Blleeessseeekkk… akhirnya batang kontolku kutekan dan benar-benar masuk ke lubang memeknya. Karena sudah lumayan sempit dan banyaknya pelicin yang membasah di lubang memeknya,sehingga batang kontolku tidak mengalami hambatan berarti saat memasukinya. Bagian dalam lubang Memek Bu Marmo terasa hangat legit dan sangat becek.

Setelah batang zakarku benar-benar membenam di kehangatan liang sanggamanya, kurebahkan tubuhku untuk menindih tubuh montoknya. Bibir istri atasanku yang merekah perlahan kukecup dan akhirnya kulumat. Saat itulah sambil terus mengulum dan melumati bibirnya, mulai kuayun pinggulku dan menjadikan batang kontolku keluar masuk di lubang memeknya.

Bu Marmo juga mulai mengimbanginya. Tak kalah hot, lidahku yang menyapu rongga bagian dalam mulutnya sesekali dihisap-hisapnya. Bahkan ia mulai menggoyang-goyangkan pinggulnya. Aku baru mulai merasakan kelebihan yang dimiliki Bu Marmo. Bukan cuma tubuhnya yang matang akibat usia senja namun masih menggairahkan. Tetapi kerja otot bagian dalam memeknya juga lebih terasa. Berdenyut dan seperti memerah batang kontolku.

Kini giliran aku yang dibuatnya mengerang. Nampaknya istri atasanku telah benar-benar matang dalam hal urusan ranjang. Untuk melampiaskannya, kuremas gemas teteknya yang besar dari luar kaos yang dipakainya. Bahkan karena kurang puas, kaosnya kusingkap dan sepasang payudaranya kurogoh dan kutarik keluar dari kutangnya. Pentil-pentil teteknya yang berwarna coklat kemerahan kupelintir dan kumain-mainkan dengan jariku.

Slep…slep…slep… begitu suara yang kudengar setiap kali ayunan pinggulku menyentuh selangkangan Bu Marmo. Di samping bunyi kecipak karena lendir yang kian membanjir di liang sanggamanya. “Sshhh… ssshh …aahh …. aahh terus nak.. aahh enak banget. Kontolmu enak bangat Nak Anto,”
Memek ibu juga enak. Empotannya mantep banget,”
Bu Marmo tersenyum. Wajahnya kian memerah. Kembali kulumat bibirnya sambil tak lepas tanganku menggerayangi buah dadanya. Saat itu kurasakan tangan Bu Marmo mencengkeram pantatku dan mulai menekan-nekannya. Dan kurasakan tempo goyangan pinggulnya makin cepat. Rupanya ia mulai mendekat ke puncak gairahnya.
Aku yang juga mulai kehilangan daya tahan segera mengimbanginya. Berkali kontolku kutikamkan ke lubang memeknya dengan tekanan yang lebih kencang dan lebih bertenaga. Bu Marmo memekik dan mengerang. “Aaauuww… aaakhhh ,,,, aakkkhhh enak banget… aaakhhh…. terus… sayang …. aaaakhhh … ya…. aaakhhh memek ibu enak bangat disogok begini… aaaaakkkkhhhh …. sshhhh… sshhh… aaahhhhh,” rintihan dan suara Bu marmo makin tak terkontrol.
Aku jadi makin terpacu. Bukan cuma mulutnya yang kucium. Tapi ujung hidungnya yang bangir dan dahinya juga kucerucupi dengan mulutku. Bahkan lidahku menjelajah ke lehernya dan terus melata. Lubang telinga Bu Marmo juga tak luput dari jilatan lidahku setelah menyibak rambutnya.

Tubuh Bu Marmo kian mengejang. Kedua kakinya yang kekar dan panjang membelit pinggangku dan menekannya. Kedua tangannya memeluk erat tubuhku. Rupanya ia hampir sampai di garis batas kenikmatannya. Aku yang juga sudah mendekati puncak gairah makin meningkatkan tikaman- tikaman bertenaga pada lubang sanggamanya.
Akhirnya gairah Bu Marmo benar-benar tertuntaskan. Cairan yang menyembur di lubang memeknya dan cengkereman kuku-kukunya di punggungku menjadi pertanda kalau ia sudah mendapatkan orgasmenya. Tetapi aku terus mengayun. Kocokan batang kontolku di lubang memeknya yang makin banjir tak kuhentikan. Bahkan makin kutingkatkan karena kenikmatan yang kian tak tertahan.

Puncaknya, Bu Marmo kembali mencengkeram pantatku. Kali ini dengan sekuat tenaga ia berusaha menahan agar pinggulku tidak dapat bergerak dan kontolku tetap membenam di lubang memeknya. Saat itulah, otot-otot bagian dalam vaginanya terasa mencengkeram bagitu hebat dan bergelombang. Serasa memerah dengan kuatnya. Aku merintih dan melolong panjang. Pertahanku menjadi jebol dan maniku menyemprot sangat banyak gua kenikmatan istri atasanku. Bersama peluh membanjir, tubuhku ambruk di atas tubuh montok Bu Marmo dengan nafas memburu.

“Nanti ikan bakar dan kepiting saos tomatnya minta dibungkus saja Nak Anto. Sayang kalau tidak dimakan. Tapi jangan lupa piring-piringnya dibuat kotor dengan nasi dan lauk yang lain, hingga sepertinya kita sudah benar-benar makan,” kata Bu Marmo setelah merapikan kembali baju yang dipakainya.

Kami meninggalkan rumah makan saung di pinggir pantai setelah membayar di kasir dan meninggalkan lembaran dua puluh ribu rupiah sebagai tip kepada petugas yang membereskan serta membungkuskan makanan yang memang tidak kami makan. Dari spion, wajah Bu Marmo kulihat sangat cerah. Pasti karena kenikmatan yang baru direguknya serta nafsunya yang lama tertahan telah tersalurkan.

“Apa lihat-lihat. Wanita sudah tua kok masih diajak ngentot,” kata Bu Marmo yang memergoki ulah mencuri-curi pandang ke arahnya lewat spion. Tetapi perkataannya itu bukan karena marah.

“Usia boleh saja sudah kepala empat. Tetapi wajah ibu masih cantik dan tubuh ibu masih sangat merangsang memek ibu sepet banget masih serasa ABG. Mau deh tiap malam dikelonin ibu,” ujarku menggoda.

“Bener tuh,”

“Sungguh Bu. Saya bisa ketagihan deh oleh empotan memek ibu yang dahsyat tadi,’

“Ibu juga suka sama batang Nak Anto. Besar dan panjang. Kalau mau kapan-kapan kita bisa mengulang. Kalau ada kesempatan nanti saya SMS,” ujar Bu Marmo.

Aku sangat senang karena sudah mendapat peluang untuk terus bisa menyetubuhinya. Tangan Bu Marmo kuraih dan kugenggam. Bahkan sempat meremas susunya sambil mengendalikan kemudi. Hanya Bu Marmo mengingatkan bahwa ulahku bisa menyebabkan kecelakaan hingga aku kembali berkosentrasi pada setir mobil yang kukendarai. Ah, memek wanita paruh baya ternyata masih sangat nikmat.

Sampai di rumah Pak Marmo sudah tidur di kamarnya. Sedang Bu susi, terlihat berbincang dengan Yu Sarti, pembantu di rumah itu. Setelah berbincang sebentar, aku dan Bu susi pamit pulang. Hanya sebelumnya Bu Marmo memberikan bungkusan lauk yang belum sempat kami makan sewaktu di rumah makan. “Buat oleh-olah anak di rumah Bu,” kata Bu Marmo.

Di jalan, saat membonceng sepeda motor dan kutanya tentang ulah Pak Marmo, Bu susi cerita bahwa atasanku itu benar-benar genit. Selama dipijat, kata Bu susi, ia terus merayu dan berusaha menggerayangi. “Tapi tidak saya ladeni lho Pak Anto,” ujar Bu susi meyakinkanku.

“Pasti Pak Marmo maksa untuk bisa megang memek ibu kan? Soalnya dia kemarin bilang pengin banget lihat punya ibu,”

“Iya sih tapi hanya pegang. Dan karena terus maksa akhirnya ibu kocok,” ungkap Bu susi jujur.

Aku tertawa dalam hati. Sementara suaminya hanya bisa meraba memek wanita lain dan dipuaskan dengan dikocok, istrinya malah sampai orgasme dua kali disogok penis laki-laki lain. Bahkan istrinya berjanji untuk mengontak agar bisa mengulang kenikmatan yang telah kami lakukan.

Sampai di rumah anak-anak Bu susi sudah tidur. Dan mungkin karena terangsang gara-gara memeknya digerayangi Pak Marmo, Bu susi memaksaku untuk singgah di rumahnya. Untuk menolak rasanya kurang enak. Karena biasanya aku yang sering memintanya untuk melayaniku.

Rupanya nafsu Bu susi sudah benar-benar tinggi. Di kamarnya, saat ia mulai mengulum batang kontolku dan tanganku menggerayang ke selangkangannya, memeknya sudah basah. Bahkan saat tangaku mulai mencolok-colok lubang nikmatnya, Bu susi kelabakan. Memintaku untuk segera menuntaskan hasratnya.

Tetapi aku berusaha bertahan. “Punya saya belum terlalu keras Bu. Nanti kurang enak. Kalau ibu menjilatnya di sini, pesti cepat kerasnya,” kataku sambil mengangkat dan memperlihatkan lubang anusku,” kataku.

Sebenarnya, kontolku kurang keras karena sebelumnya telah dipakai melayani Bu Marmo di rumah makan. Namun keinginan untuk dijilati di bagian anus, mendapat tanggapan serius Bu susi. Ia langsung berjongkok di tepi ranjang dan berada selangkanganku. Dan tanpa ragu atau merasa jijik, langsung menjulurkan lidahnya untuk menyapu biji pelirku dan diteruskan dengan menjilat-jilat lubang duburku. Rasanya geli-geli nikmat dan membuat tubuhku merinding.

Akibatnya aku dibuat kelojotan. Dibuai kenikmatan yang diberikan Bu susi. Terlebih ketika ia mulai mencucuk-cucukkan lidahnya ke lubang duburku. “Aaakkhhhhh… aakkhh.. enak banget …. oookkh enak banget. Saya suka suka banget ngewe sama ibu. Oookkkh … nikmat,”

Dirangsang sebegitu rupa kontolku makin mengeras. Tetapi Bu susi terus saja menjilati dan mencerucupi anusku. Ia melakukannya sambil meremasi dan mengocok-ngocok kontolku yang makin terpacak. Takut keburu muncar sebelum dipakai menyogok lubang memeknya, aku meminta Bu susi menghentikan aksinya.

Tubuh montoknya langsung kutarik dan kutelentangkan di ranjang. Dalam posisi mengangkang, aku langsung menungganginya. Bleesss… kontolku langsung melesak di lubang nikmatnya yang basah. Ia agak tersentak. Mungkin karena aku menggenjotnya secara tiba-tiba. Namun ia tidak mengeluh dan malah mendesah nikmat.

“Ah… sshh… aahh.. enak banget. Marem banget kontolnya Pak Anto,”

Dan lenguhannya makin menjadi ketika aku mulai memompanya. Aku mencolok-colok dan memaju-mundurkan pinggangku dengan tempo cepat. Tubuh Bu susi terguncang-guncang dan susunya yang besar bergoyang-goyang. Gemes dan merangsang banget melihatnya. Aku jadi tergerak untuk meraba dan meremas-remasnya sambil menikmati kehangatan lubang nikmatnya.

Aku sudah beberapa kali menyetubuhi Bu susi. Tetapi sepertinya tidak pernah bosan.  Bu susi meskipun sudah setengah baya tapi tetapi terasa kesat dan liat. Terlebih bila ia sudah memain-mainkan otot-otot bagian dalam lubang vaginanya. Erangan dan desahannya juga selalu mengipasi nafsuku.

Cukup lama kami saling memacu. Sampai akhirnya Bu susi mengisyaratkan bahwa ia hampir memperoleh orgasmenya. Maka kocokan dan sogokan kontolku di lubang kemaluannya kian kutingkatkan. Berdenyut-denyut batang kontolku dibuatnya saat Bu susi mulai mengimbangi dengan empotannya. Akhirnya Bu susi memperoleh apa yang didambanya dan aku pun sama. Spermaku menyemprot dan membasahi liang vaginanya. Tubuhku ambruk di kemontokan tubuh wanita yang basah oleh keringat.

BERITA ONLINE TERKINI | MANFAAT BAIK MINYAK KELAPA, BISA BIKIN LANGSING ?

1:08 AM Add Comment

DUNIA121 - Minyak kelapa sempat diprediksi bakal menjadi tren makanan sehat di 2017 pada akhir tahun kemarin. Tak lain karena kandungan lemak tidak jenuh di dalam minyak kelapa yang menyimpan segudang kebaikan bagi tubuh kita.

Para peneliti dari Sri Lanka bahkan pernah melakukan uji coba dengan mencampurkan minyak kelapa dan nasi guna melihat apakah perpaduan ini bisa "digunakan" oleh individu yang kelebihan berat badan.
Selama ini orang-orang yang tidak percaya diri dengan berat badannya akan menjauhi nasi karena dianggap bikin gemuk. Namun, di sisi lain, minyak kelapa mengandung lemak jenis MCT (Medium-Chain Triglycerides) yang dapat membantu pembakaran lemak dan kalori, seperti yang tertulis di Journal of Obesity and Metabolic Disorder pada awal Januari 2017.

Dalam praktik uji cobanya, dua peneliti Sudhair James dan Dr Pushparaj Thavaraj, menguji delapan resep berbeda pada 38 varietas padi. Pada tahap awal, seluruh beras dimasak, seperti memasak nasi pada umumnya. Akan tetapi di saat air mendidih, para peneliti mencampurnya dengan minyak kelapa. Beras kemudian didinginkan dalam lemari es selama 12 jam, baru setelah itu dikonsumsi.

Metode memasak dengan minyak kelapa, kata Sudhair dan Pushparaj, telah mengubah komposisi kimia dari berat itu. Setelah diteliti kandungan gizinya, diketahui bahwa kalori dari nasi berkurang sebanyak 10 sampai 12 persen.

"Padahal kita tahu, pati dicerna berubah menjadi pati resisten sehingga nasi langsung dicerna sebagai glukosa. Bila glukosa ini tidak diubah menjadi energi, maka Anda akan mengalami kenaikan berat badan," kata peneliti ,dikutip dari situs Healthy and Natural World, Jumat, 23 Juni 2017.

Bila biasanya satu cangkir nasi putih mengandung 246 kalori, dengan menggunakan metode ini kalori dapat dipangkas menjadi 147 kalori.

Penelitian dengan mencampurkan minyak kelapa ke dalam nasi dilakukan pada 2015.

Ngecrott Di Vagina Legit Mbak Tukang Sate Yang Bodynya Aduhai

4:28 PM Add Comment

DUNIA121.belakang di sebuah Kota di Jawa Tengah dimana disitu saya lagi liburan. Di Kota tersebut saya tinggal bersama nenek saya di suatu desa.Singkat cerita saya kalo lagi di Rumah Nenek sering sekali beli sate keliling yg kebetulan penjual sate itu ibu-ibu yang umurnya sekitar 30-35 an lah,
dengan body sedang tapi berisi emang si buah dadanya gak gede-gede banget ya sedang lah…

Kalo kita sering beli otomatis kan si penjualnya sate kenal dong sama saya, iyalah saya kalo beli gak pernah seribu-dua ribu minimal 10 ribu makanya cepet kenal tu penjual satenya ama saya, hehehe

waktu itu siang menjelang sore sekitar jam 2 atau 3 an lah, cuaca mendung berangin dan saya di rumah sendirian karena nenek dan om-om saya lagi pergi karena ada suatu kepentingan dan pulangnya mungkin larut malam. Si Ibu-ibu Penjual sate lewat bro sebut saja ‘Fitri’, dan kebetulan saya abis mandi dan kelaparan akhirnya saya panggil mbak fitri untuk berhenti dan buatin saya sate nya di teras bagian depan rumah yg luas dan tdk terlihat dari rumah-rumah tetangga karena terhalang pepohonan…

saya : Mbak satene 15 ribu ya sate aja ga usah lontongan…
mba Fitri : nggeh mas,sebentar tak panasin dulu satenya.
saya : mbak cuaca gini tetap muter ? kalo hujan neduh atau gimana ?
mba Fitri : neduh mas,kalo gak nanti dagangan basah semua dan ga enak lagi rasanya..
saya : ohh gitu..emg tinggal dmn mbak ? sama siapa ?
mba Fitri : saya tinggal di daerah N*ga*lak mas, tinggal sendiri kan suami sama anak di madura sana..
saya dengernya kaget campur ga percaya gan karena saya kira doi tinggal bersama2 selama sama keluarganya,,ternyata tidak.
saya : ohh saya kira mbak tinggal bersama2,berarti nenggok anak dan suaminya kapan ?
mba Fitri : ya kalo ada duit aja mas baru nenggokin,kalo ga ada ya nabung dulu..

niat bantu mulai muncul gan tapi kudu ada yg saya dapet juga dongg,,heehee

gak lama tu sate jadi dan hujan yg saya tunggu2 akhirnya turun juga dan tipe hujannya, hujan yg awet gitu deres tp awet..

saya : yah mbak hujan deras nih , disini aja kali ya mbak sekalian nunggu hujan reda..
mba Fitri : hmm,simbak gak dirumah ya mas? ga enak ahh…
saya : gpp mbak,nanti saya yg tanggung jawab kok.. lagian juga ga masalah kan hujan gini kok.
mba Fitri : aduh iya mas makasih ya…

hujan kayaknya makin lama makin deres disertai angin ,saya yg tadinya di dlm rumah iba ngeliat mba Fitri di teras sendirian,akhirnya saya bujuk biar masuk kerumah.

saya : nah mbak di dlm rumah kan tenang,kalo di teras nanti basah kan..
mba Fitri : iya mas, terima kasih

saya buatin teh anget gan buat pelumas suasana biar terasa hangat dan akrab..sambil ngeteh kita ngobrolin banyak hal

detik demi detik,,menit demi menit,,jam demi jam kita ngobrol udah 2 jam dan hujan blm berhenti turun juga…dan kita rupanya udah lumayan akrab.. akibat cuaca dingin hujan nafsu pun naik terus gan,,awalnya saya sih ga ada niat pengen ML ama mba Fitri tetapi karena cuaca dan situasi yg mendukung akhirnya mncul niat saya buat ngajak ML mbak Fitri yg waktu itu pake kaos dan rok panjang tali BH hitam juga tergambar jelas karena mungkin bahan kaos nya tipis…

akhirnya saya punya plan buat bikin ‘Sex for Extra Money’…..

saya : mbak,gak dingin ? kaos gitu doang ? gak takut masuk angin ?
mba Fitri : gak mas,sudah biasa kok begini..
saya : trus mbak terakhir pulang kampung kapan ?
mba Fitri : hmm..sekitar 4 bulan yg lalu mas,skrg blm bisa pulang lagi karena dagangan sepii,,biasanya bisa 1bulan sekali..
saya : oalahh,,yaampun mbak kangen yah berarti sama anak dan suami nya ?
mba Fitri : iya lumayan mas,apalagi anak saya kadang suka nyariin saya,bapaknya juga jarang punya duit buat nyamperin saya ksini…

Sedih si gan dengernya,,tetapi gak ngurangin niat membantu saya

saya : hmm..mbak kalo aku mau bantu mbak buat bisa pulang kampung selama 2 bulan ini mau ?
mba Fitri : maksudnya mas ?
saya : iya,,ak ada rejeki lebih mbak,dipake aja buat mbak pulang kampung bulan maret ini dan bulan april besok….

singkat cerita mbak Fitri mau gan…

saya : mbak tp maaf ini ada syaratnya sdkit aja…
mba Fitri : apa syaratnya mas ?

saya langsung pindah duduk ke sebelahnya mbak Fitri..wanginya khas ibu-ibu muda banget…

saya : hmm..gini mbak kalo mbak mau aku bisa ngasih ongkos tambahan lagi diluar uang tiket ke madura mbak…

aku minta mbak ngelayanin aku sebanyak 10 kali selama aku liburan disini dan selama mbak juga disini,,kalo gak mungkin disini maen nya nanti tiap malem selesai dagang mbak ke kontrakan aku aja…gimana ?

mba Fitri : ngelayanin gimana mas maksudnya ? trus maen apa ?

sambil saya elus-elus punggung nya…

saya : ngelayanin hasrat seks aku mbak,,aku pengen nyicipin mbak Fitri di kasur….
mba Fitri : waduh mas gabisa aku,,takut ketauan suami ku…
saya : suami mbak kan disana,,mbak disini ak yg modalin kan…kalo mbak manut gak tertutup kemungkinan akan ada bonus lagi buat mbak..

aku juga gak bakalan ngeluarin sperma di dalam kok mbak….

mba Fitri : kok banyak bgt e mas 10 kali ngelayanin ? gk bisa di kurangin ?
saya : yah mbak ga bisa dongg,,masa di tawar sih kaya beli cabe aja…gimana mbak mau ? klo mau ke kamar aku sekarang….
mba Fitri : nanti kalo pd pulang gimana mas ?
saya : gak mbak,,semua pulang sampe sini jam 12 an soalnya lagi ke pekalongan…
mba Fitri : tp janji lho mas,jangan ngeluarin di dalem…
saya : iya mbak janji kok…

kondisi kontol saya udah bner-bener ngaceng kenceng banget.. bgitu mbak Fitri masuk kamar saya pintu saya kunci kipas saya nyalain… dan saya langsung copot celana saya..

mba Fitri : ya ampun mas,kok gede bgt sih pny bapaknya aja gak segitu gedenya…
saya : sini mbak emut dulu dong ini udah bangun bgini…
mba Fitri : aduh mas aku gak biasa ngemut manuk e mas.. gabisa…
saya : ya sudah sini saya ajarin mbak,,masukin ke mulut sambil di sedot-sedot dan di maju mundurin nyedotnya…kaya ngemut eskrim itu lho mbak.. tp jangan kena gigi yah…

mbak Fitri langsungg ngocok sambil nyepong kontol ane gan,,ngilu banget karena nyedot nya kenceng banget…ampe bunyinya kenceng banget.

saya : ahhh mbakk terus sedot mbak…. biji nya jilat-jilat mbak……

mbak Fitri langsung jilat ujung kontol sampe ke biji-biji nya gan sambil di sedot-sedot juga..ampe merah basah dah kontol saya..

saya : buka mbak baju nya,,bugil aja mbak.. jangan segan-segan ya mbak anggep aja kita suami istri…
mba Fitri : iya mas,,jangan bilang-bilang ya mas ya…aku malu.
saya : iya mbak gak kok,tnang aja…

baju nya pun terlepas,,tinggal BH warna hitam berendanya gan dengan toket kenyal banget kaya Jelly….dan lanjut buka rok nya..

jadi tinggal pake daleman semua gan… langsung saya tindih dari atas tangan saya ngeremes toket mbak Fitri yg bener-bener kenyal banget.. kontol saya selipin di sela-sela paha nya saya dorong-dorong…….

mba Fitri : aaahhhh…mas. sakit mas….
saya : nenen dong mbak..ada air nya gak mbak ?
mba Fitri : gak ada mas…buka aja BH nya mas.. buat mas kok.

saya angkat BH nya, haduh makin nafsu aja saya liat pentil nya yg berukuran proposional dengan bentuk toket nya..
bulet warna hitam rada terang ukuran pentilnya juga sedang pokoknya pass banget.
ga banyak lama langsung saya sedot jilat toket sebelah kanan nya,,yg toket kiri saya pilin-pilin pentilnya…
desahan nya adem banget di kuping…saya cupang tu toket ampe merah-merah…

cukup lama saya bermain dengan toketnya karna tipe toket yg saya suka banget kalo yg bgitu…pkonya saat itu badan mbak Fitri full buat saya nikmati

mba Fitri : mas masukin aja titit nya…..gakuat mas..

mbak Fitri langsung nurunin CD nya,,ternyata doi juga ngerawat memek nya gan bulu sedikit bgt dan gak berbau….
posisi mbak Fitri ngangkang dengan memek becek..
pelan-pelan sambil di pegangin mbak Fitri kontol saya mulai masuk ke sangkar nya…

mba Fitri : aaaahhhhh….sakit mas… ahhhh…

desahan sambil ngerintih kesakitan,,tapi enak…
masuk lah kontol saya full kedalem memek mbak Fitri…
permainan dimulai gan…maju mundurin pelan-pelan..

saya : mbak memeknya legit banget..
mba Fitri : udah lama libur kan masss…ahhhh sakit mass gede banget Kontol nya.. pelan-pelan mas..

sambil nyedot toket sambil maju mundurin…

gak kerasa udah hampir 1 jam kita bermain di kamar saya…sampe kasur gak ada bentuk nya lagi brantakan..

mba Fitri : mass..ak mau keluar mas.. ahhhh terus mas sodok terus mas aduhh ahhhh….

cairan hangat keluar membasahi kontol saya jd smakin licin masukin nya…

sesekali sambil remes dan nyiumiin leher mbak Fitri,,sayangnya cuma nyoba 2 posisi ngangkang dan doggy style

saya : mbak sepongin titit ku lagi mbak….
mba Fitri : sini mass mana titit nya ?

sepongin lagi gan bikin ngilu campur nafsu tingkat tinggi

saya masukin lagi ke memek nya kali ini kecepatan tinggi saya maju mundurin nya,,toket nya mantul-mantul gan…

saya : mbaakkk aahhhh mau crot mbakkk crott dimana ??.
mba Fitri : aaahhhhh…terserah mas nya ajaa….mau keluar dimana…..
saya : di dalem aja ya mbak gakuat mbak..ahhh..

mba Fitri : iya mas boleh kok…cpet keluarin mass gakuattttt……

akhirnya kontol saya full masukin ke memek nya sambil ngecrott sperma banyak banget saya langsung lemes campur puasssss…..
dengan posisi kontol masi di dalem memek..

mba Fitri : makasi mas,,blm pernah sepuas ini aku kalo maen mas….

saya : sama-sama mbak,,besok-besok jangan sungkan kalo butuh ngmg sama ak ya mbak….

kita brdua ngos-ngosan banget…capek tapi puassss bangeettttt….

mba Fitri : mas..nyusu nih.. ( ngarahin toketnye ke mulut saya)

langsung saya sedot dan emut ala bayi nete…
sambil maju mundurin kontol saya karna masih nygkut di memeknya sampe bner2 ngecil dan lemes….
selama jeda gak ML saya cuma nete di mbak Fitri,,,sampe akhirnya doi nyepong kontol saya lagi sampe ngaceng keras dan akhirnya kita berdua maen lagi…..

dan saya crott di dalem untuk kedua kalinya..
kebiasaan itu terus brlanjut gan sampe akhir bulan Mei kemarin tapi di kontrakan saya maen nya…
terakhir sih mbak Fitri udah telat 2 bulan gan hahahaaa….
tp dia juga pinter sih abis ML sama saya langsung ngajak bkin Adek ama suaminya… jd gatau gan itu nanti anak siapa

BERITA ONLINE TERKINI | INI ALASAN MENGAPA RUBEN ONSU TIDAK DI PERBOLEHKAN MASUK KE RUMAHNYA SNDIRI

12:26 AM 1 Comment
# Agen Poker Online#Agen Domino Online#Agen Bandarq#Agen Bandarqq
DUNIA121 - Seperti selebritas Tanah Air kebanyakan, Ruben Onsu kerap membagi aktivitas sehari-hari yang ia lakukan melalui media sosial. Presenter televisi itu pun terkenal dengan cerita sederhana yang tak jarang membuat publik kagum.
Salah satunya terlihat dalam foto yang diunggah di Instagram pribadi Ruben Onsu, Selasa (20/6/2017). Ruben tampak duduk di sebuah kursi sederhana di tempat parkir kediamannya. Wajahnya tampak lesu karena kelelahan.

Rupanya, ayah satu anak itu baru pulang dari syuting acara sahur di salah satu stasiun televisi. Ruben Onsu tak ingin membangunkan sang istri, Sarwendah, untuk membukakan pintu, sehingga ia memilih menunggu di luar rumah.

"Cerita nya baru pulang Live sahur dan si mba yg kerja udh pulang kampung trs mau bangunin istri kasian krn baru aja dia tidur pagi krn kecapean dan anak lg rewel, jd takut mereka kebangun. gak pernah pegang kunci rumah krn selalu ilang hahahaha jadi nunggu saja di garasi, sebentar lg jg pasti bangun," begitu kutipan tulisan Ruben Onsu dalam keterangan foto.


Sontak foto sederhana Ruben Onsu itu membuat publik kagum. Lebih dari 100 ribu pengguna Instagram menyukai momen tersebut dan tak kurang dari seribu warganet meninggalkan tanggapan positif di kolom komentar.

"Sosok suami yg bener2 pengertian. Patut di contoh," tulis @keitcovershop.

"Duh... @ruben_onsu baik bgt... pengertian n sayang sm kluarga. JBU @ruben_onsu .....," sahut @imel_duru.

"Kasian bensuuu ya ampun baiknya ini si ayah thalia," imbuh @melissa_letyzia.

"Ka @ruben_onsu emank the best bgt papa yg baik sekaligus swami yg patut d contoh," ungkap @vinacaem87.

Menikmati Vagina Sempit Pembantu Janda Rasa Perawan

3:03 PM 1 Comment

DUNIA121.Jabatan ini ku peroleh sebulan yg lalu karena sudah 4 tahun aku menjabat sebagai assisten kebun di wilayah Kalbar dan dianggap mampu serta mengetahui seluk beluk bidang pekerjaanku terutama masalah budget dan controlling selain keahlianku di lapangan.

Hidup di Jakarta memang tidaklah mudah, perlu penyesuaian dan kesabaran yg tinggi serta masalah pengaturan keuangan agar bisa hidup di belantara beton. Walau sama-sama belantara, namun hidup di lokasi kebun perusahaan yg notabene belantara hutan beneran lebih sri, sejuk dan tenang dibandingkan belantara beton di kota ini.

Untung dgn posisiku, aku mendapat beberapa fasilitas dari perusahaan yg tidak aku dapat pada posisi terdahulu. Aku mendapat uang sewa rumah yg cukup besar dan beberapa fasilitas lain seperti mobil operasional dan UPD yg lumayan besar bila melakukan audit di lokasi perkebunan.

Setelah 2 bulan mencari rumah kontrakan, akhinya aku dapat di sebuah perumahan di Bekasi. Atau sekitar 1 jam dari kantor menggunakan mobil.

 Sebulan aku mengurus rumah, aku sudah tdk sanggup, apalagi sering aku tinggal ke luar kota. Aku kemudian mencoba mencari pembantu untuk mengurus dan membersihkan rumahku. Saat aku mencari makan di perbatasan Tasikmalaya sepulang aku dari rumahku di Magelang, aku coba menanyakan kepada salah satu pelayan warung makan yg lumayan manis dan montok walau kulitnya agak gelap.

“Mbak, mau nanya boleh?” kataku pada seorang pelayan warung makan saat aku makan siang
“Iya mas, ada apa?” jawabnya
“Mbak tau tempat untuk mencari pembantu rumah tangga di sekitar sini?” tanyaku
“Emang masnya nyari pembantu untuk siapa dan dimana tinggalnya?” tanyanya
“Untuk saya dong, rumah saya ngga ada yg ngurus kalo saya tinggal, apalagi kalo keluar kota. Selain itu saya masih sendiri mbak. Kalo bisa yg bisa masak sekalian, biar ngga repot kalo saya tinggal di Jakarta” jawabku

“Kalo gajinya mas?” tanyanya lagi
“Berapa mbak rata-rata gaji pembantu disini ?” tanyaku
“Saya kurang tahu mas, tp kalo saya disini digaji 600 ribu sebulan” jawabnya
“Ooo…..kalo mau ya saya gaji 850 ribu deh plus makan, tempat tinggal dan MCK ditanggung” kataku sambil bergurau
“Kalo gitu saya aja mas, tp gajinya digenepin yah jadi 1 juta gitu” katanya menawarkan diri sambil tersenyum

“Masalah gaji sih ngga masalah, tp suami apa orangtua mbak keberatan nggak?” tanyaku sambil menyelidik
“Saya udah cerai kok mas, jadi agak bebas. Kalo orangtua saya nggak masalah” jawabnya
“Oya, nama mbak siapa? Dari tadi aku lupa nanya nama. Saya wandi ” kataku
“Kalo saya nur, lengkapnya nur nurjanah” jawabnya

Akhirnya aku menunggunya untuk ngomong sama pemilik warung dan ketika pemilik warung mengantar nur ke mejaku, aku berdiri dan ngomong kepada pemilik warung agar mengerti. Dia mengangguk dan mendoakan nur agar berhasil ikut aku.

Kemudian aku mengantar nur ke rumahnya yg terletak sekitar 5 km dari warung itu di sebuah desa yg masih tertinggal. Sampai disana aku ngomong kepada orangtua nur sambil memberi kartu nama dan alamat serta nomor telpon rumahku. Setengah jam kemudian nur kembali keruang tamu sambil membawa tas kecil berisi pakaian.

Setelah itu aku memberi uang 500 ribu untuk ibunya nur karena hatiku iba dgn kehidupan mereka di desa ini, dan mereka berterima kasih kepadaku. nur juga tersenyum kepadaku saat adiknya aku berikan uang 50 ribu untuk beli buku. Kamipun berangkat ke Jakarta lewat Bandung. Akhirnya kami tiba di Jakarta pukul 10 malam dan kemudian menunjukkan tempat tidur nur. Setelah itu aku segera mandi kemudian tidur.

Keesokan harinya aku bangun dan saat menuju kamar mandi, aku lihat mirna sedang mengepel lantai. Di meja makan sudah tersedia segelas kopi panas dan nasi goreng. Setelah aku mandi aku lalu sarapan dan sempat aku lihat nur mengepel lantai dlm posisi membungkuk. Terlihat pantatnya yg indah membulat bergerak-gerak dan membuat aku terangsang.

Setelah sarapan aku jelaskan tugas nur dan fasilitas yg ada di rumah. Dia mengangguk tanda mengerti dan saat kulihat bajunya, ternyata sudah ada yg robek. Siang harinya nur aku ajak berbelanja beberapa baju, celana,daster, pakaian dlm dan sandal serta tdk lupa make up. nur juga sekalian aku ajak ke pasar untuk membeli bahan mentah untuk dimasak.

Setelah sampai dirumah, aku suruh nur untuk mencoba baju dan celana yg dibeli tadi. Umur nur baru 23 tahun, tingginya 160 cm dan beratnya sekitar 45 kg dan yg membuatku terpesona adalah teteknya yg berukuran 36 B. Kulitnya agak putih namun terawat dan wajahnya yg manis membuat baju yg dibeli sangat cocok dgn tubuhnya.

Malam harinya dia bercerita tentang keluarganya, mantan suaminya dan pekerjaannya. Dia lulusan sebuah SMK di daerahnya dan dulu dinikahi oleh seorang lelaki yg sudah tua tp kaya raya. Dia merupakan rentenir di desanya dan orangtuanya mempunyai hutang yg banyak pada lelaki tersebut sehingga ketika orangtuanya tdk bisa membayar hutang, nur dipaksa menikah oleh lelaki tersebut dgn ancaman orangtuanya akan dibunuh karena tdk bisa membayar hutang. Pernikahan mereka hanya bertahan 1 tahun ketika lelaki tersebut meninggal dan oleh istri tua lelaki tersebut nur tdk diberi apapun. nur sempat bekerja di sebuah toko di Tasikmalaya selama 2 tahun, tp disuruh pulang untuk dinikahkan dgn rentenir tersebut.

Setelah 3 bulan nur bekerja dirumahku, dia sudah agak berubah. Kulitnya putih bersih dan mulus serta sudah bisa menggunakan make up walau hanya sesekali. Aku yg sering dinas keluar kota merasakan perubahan tersebut. Keakraban kami juga bertambah sebagai teman, bukan majikan dan pembantu.

Dan pada hari Jumat malam, setelah gajian, aku ajak dia ke sebuah restoran untuk makan malam walaupun hujan rintik mengguyur Jakarta. Setelah makan malam, dia aku ajak menonton film di ruang keluarga dgn DVD yg aku beli di mangga dua. Dia memakai daster tanpa lengan yg aku belikan dan aku hanya bercelana kolor pendek dan kaos longgar.

Saat ada adegan percintaan yg agak panas, kurasakan nafasnya terasa berat. Akupun segera mendekatkan posisi dudukku sampai disamping badannya.

“nur, serius bener nonton filmnya?” tanyaku
“Ehh…..mas wandi emangnya ngga serius?” jawabnya
“ Hehehe…kalo bagian gituan aku pasti serius” candaku
“Bagian yg mana? Ooo….pasti bagian yg buka-bukaan ya…” katanya sambil tersenyum.
“Iya dong, kalo dulu kamu ama suamimu dulu gimana?” Kataku sambil tertawa
“Ihh….mas wandi ini ada ada aja” katanya sambil tersenyum
“Ceritain dong….jadi penasaran nih..” kataku sambil mendekatkan tubuhku ke tubuhnya

“Malu ah…pamali atuh….” Katanya sambil mencubit pinggangku
“Dulu pasti enak terus dong ama suami yg sudah ahli” kataku sambil membalas mencubit pinggangnya
“Ihh….sakit dong mas…Suamiku dulu dah ngga kuat kok, aku aja ngga ngerasa” katanya
“Mosok…..bisa dong diajarin…” kataku
“Yee….ama pacar mas atuh. Mosok ama saya, saya kan jelek. Janda lagi” katanya
“Aku belum punya pacar koq. Masih seneng sendiri” kataku sambil merangkul nur dan tdk ada tanda penolakan

Setelah itu aku menawarkan untuk memutar film yg lebih hot. nur yg penasaran segera mengiyakan tawaranku. Segera aku ambil VCD XXX romantis dari kamarku. Setelah itu aku duduk disamping nur dan merangkul pinggulnya. Terlihat seorang cewek Jepang sedang bercakap cakap dgn lelaki bule dan saling merangsang. Kemudian meraka terlibat percintaan yg lembut dan romantis.

30 menit kemudian, nur ternyata sudah sangat terangsang melihat adegan tersebut dan akupun yg sudah tegang, lalu mencium pipinya. Ketika dia menoleh ke arahku, segera aku cium bibirnya yg tipis dan dia membalas dgn lembut. Tanganku mulai menjelajahi toketnya yg montok dan menantang.

“Mass….jangaannn..ntar keterusan….” Kata nur pelan sambil tangannya menolak badanku lembut, tp aku pegang tangannya hingga tubuhnya terpojok di sudut sofa.

Tangannya memegang badanku dan berusaha mendorongku hingga aku harus memegang kedua tangannya dgn tangan kiriku.

Aku tdk memperdulikan omongan nur dan terus mencium bibir dan lehernya. Tangan kananku juga bergerilya kearah memeknya dan ketika sampai di memeknya, ternyata celana dalamnya sudah basah.

“Masss………..janggaaann……..” katanya dan segera aku sumpal bibirnya dgn bibirku sampai lidahku masuk dan mempermainkan lidahnya. Tanganku segera bergerilya kembali di toket dan pusarnya.

Dgn serangan di tubuh atasnya, nur lupa mempertahankan bagian bawahnya. Dgn cepat, tanganku kemudian melepas celana dalamnya dan tangan nur terlambat menghalanginya. Tubuhnya bergerak-gerak untuk melepaskan diri tp kalah dgn kekuatanku. Kemudian, tangan kananku mengelus memeknya lembut dan kurasakan memeknya sudah basah sekali. Beberapa kali jariku menelusup ke belahan memeknya dan mengenai clitorisnya, sedangkan kakiku aku gunakan menganjal kedua pahanya agar aku leluasa.

“Masss…..janggggaaannn…..aaduuhhh…..” desahnya tp tdk melarang tanganku yg masih menggosok bagian enaknya.

Setelah itu aku angkat tubuhnya dan aku lepas dasternya walau dgn penolakan keras. Tangannya mencoba menghalangi tp masih kalah kuat dgnku. Setelah itu aku lepas sekalian BH-nya hingga toket yg indah menggantung. Pentilnya merah muda sangat menggirahkan. Kemudian aku dudukkan nur disofa dan aku hisap pentilnya. Tangan kiriku memegang kedua tangannya yg sudah aku arahkan ke belakang punggungnya. Tangan kananku menggosok clitorisnya hingga memeknya basah. Tubuhnya dan kakinya bergerak dan mencoba meloloskan diri tp segera aku kuasai dgn tubuhku serta kakiku.

Bibirku kemudian bergerilya di toketnya yg sudah mengeras dan putingnya sangat tegang. Perlahan semakin kuturunkan jilatanku ke perut dan pusarnya sambil tanganku masih meremas dan mempermainkan putingnya yg tegang mengacung sambil memposisikan tubuh nur menyandar di sofa.

“Oooohhh…sudaaah masss……….jangaannn……..” desahnya

Aku tdk memperdulikan dan segera jilatanku menuju ke meqinya yg basah sekali. Aku lihat jembut nur yg tebal sangat mengairahkan ditambah lagi meqinya yg tanpa ada cacat berwarna merah muda menambah naik nafsuku. nur mendesah ketika jilatanku mengenai memeknya.

“Mass……….kotorr…..akuu…maluu………” teriaknya sambil mendorong kepalaku

Tanganku lalu memilin pentil toketnya dan tangannya mencoba melepaskan mendorong kepalaku untuk menjauhi memeknya yg sudah sangat basah oleh lendir nikmatnya dan air liurku. Sensasi yg aku buat ternyata lama-lama membuat nur mulai merasa keenakan dan menikmati yg kulakukan. Tangannya meremas rambutku dan kakinya diangkat ke atas pundakku.

“Ohh…..masss…..enaaaaakkkk……..” desah nur

Aku lalu menggodanya dgn menjauhkan mulutku dari memeknya. Tp tangannya segera mendorong kepalaku untuk menjilati meqinya lagi. Sampai 5 menit kemudian tubuh nur mengejang hebat disertai jepitan kakinya dan tangannya menekan kepalaku.

“Masss…aku keeluuuarrrr….” Jerit nur

Cairan orgasmenya menyembur dan segera aku telan. 2 menit kemudian aku lihat nur lemas tak berdaya dan segera aku gendong tubuhnya ke kamarku. Aku lalu melepas celana dan kaosku. K0ntolku yg berukuran 16 cm diameter 3,5 cm dan telah tegak mengacung aku arahkan ke mulut dan aku paksa nur menjilati k0ntolku. Walau agak canggung, nur mulai menjilat dan menghisap k0ntolku serta tangannya mengocok k0ntolku.
Setelah 5 menit, aku lalu mencium nur dan menjilati leher, pentil dan ketiaknya yg putih bersih. Perlahan, jilatanku merambah pusar dan perutnya. Akhirnya meqi nur aku jilat beserta clitorisnya yg sudah mulai besar kembali.

“Mass….sudahhh..jangan teruskan…” kata nur pelan

Setelah memeknya banjir aku lalu mencium bibirnya lagi dan disambut dgn pagutan bibirnya yg ganas. K0ntolku aku arahkan ke lubang memekinya. Aku sangat kesulitan memasukkan k0ntolku dan lama, sampai akhirnya kepala k0ntolku terselip di celah mmemeknya. Setelah itu aku dorong perlahan k0ntolku dan perlahan mulai masuk sedikit K0ntolku serasa dijepit keras oleh memek nur.

“Masss…..” dasah nur saat k0ntolku mulai masuk dlm meqinya

Aku kemudian memasukkan lagi k0ntolku dan aku menyodok lembut meqinya sampai sepertiga k0ntolku masuk. nur mulai mengelinjang keenakan dan k0ntolku terasa terhalang oleh suatu lapisan. Aku kemudian menarik k0ntolku dan kemudian mendorong kuat k0ntolku dlm memek nur.

“Ahh…masss…….sakiitttt….” teriak nur saat k0ntolku masuk dan mentok sampai dinding rahimnya

Pinggulnya bergerak ke kanan dan kekiri mencoba mengurangi rasa sakit yg menjalari memeknya. K0ntolku yg telah masuk terasa terjepit kuat oleh memeknya. Akupun mengikuti gerakan pinggul nur sambil mendiamkan k0ntolku dlm memeknya yg sempit. Akhirnya tubuh nur yg sudah kelelahan tdk bergerak gerak lagi. Nampak tetesan air matanya membasahi sudut mata dan mengalir ke bantal. Dari wajahnya, nur sepertinya sudah pasrah terhadap apa yg akan aku lakukan selanjutnya.

“Tenang nur….abis ini kamu akan merasa enak dan merasa diawang-awang” kataku sambil mencium pipi dan bibirnya yg masih tertutup.

Sekitar 2 menit aku mendiamkan k0ntolku sambil mulutku menghisap dan menjilati pentilnya yg mengacung tegak. Kemudian aku mulai menggerakkan k0ntolku maju mundur dgn lembut. Disertai ciuman dan jilatan di tubuhnya.

“Ooohh…masss…..enaaaakkk……” desah nur ketika sodokanku mulai lancar dlm meqinya
“memekmu juga enak sayang…..sempit banget..” desahku sambil menyodok dgn kecepatan sedang
“Kecepok…kecepok….kecepok….” suara k0ntolku beradu dgn memeknya yg sudah banjir

Setelah 10 menit, aku merasakan k0ntolku dijepit dan disedot keras oleh meqi nur. Yg merupakan tanda bahwa nur mengalami orgasme.

“Masssss…..akuuu…keeee….luuaaaarrrr……..” Jerit nur sambil tangannya menjambak rambutku dan kakinya mengapit erat pinggulku.

Akupun mendiamkan sebentar k0ntolku dlm mmemeknya yg masih mencengkram dan menyedot kuat k0ntolku. Dan sebentar kemudian aku mulai menyodok kembali k0ntolku dlm memeknya yg sangat basah akibat cairan orgasmenya yg lumayan hangat. Ciuman dan jilatanku menejelajahi kembali bibir, leher dan pentil toketnya serta ketiaknya yg bersih. Setelah itu, sodokanku mulai cepat dan mengakibatkan tubuh nur terguncang guncang lemas dibawah tubuhku. Semakin lama sodokanku makin cepat karena aku aku sudah merasa spermaku sudah mau dikeluarkan.

“OOhhh…..masssss……” desah nur yg dilanda nafsu birahi kembali
“nur…meqimu memang seret…..aku sukaaa….” Desahku

Sekitar 10 menit kemudian aku merasakan k0ntolku terasa dijepit dan disedot oleh meqi nur lagi. Beserta itu, tangannya mencakar punggungku dan kakinya mengapit pinggulku dgn kuat. Kali ini semburan cairan orgasme nur terasa panas dan banyak.

“Masss……akuuu……dapat laaa…ggiiiiii……” jerit nur ketika mendapat orgasme yg kedua saat bercinta dgnku.

Aku yg sudah tdk tahan lagi bermaksud mengeluarkan k0ntolku dari meqinya. Tp kakinya yg masih mengapit pinggulku dgn kuat menghalangi niatku dan sebentar kemudian

“Crottt….croottt…croottt…….” sekitar 10 kami semburan spermaku yg sudah tdk aku keluarkan selama 2 minggu mengucur deras dlm meqi nur.
“Ohhh….nuraaa…….akuu…keluaarrr….” teriakku saat bendungan spermaku sudah tdk dapat dibendung lagi.

Tubuhku ambruk di atas tubuh nur yg lemas. “Plop….” Suara k0ntolku saat terlepas dari meqi nur.

Setelah itu aku membaringkan badanku disebelah tubuhnya. Aku sempat melihat sprei ranjangku terdapat cairan dgn warna merah jambu hingga aku kaget.

“nur, kamu masih perawan ya?” tanyaku dgn kaget
“Iya mas, dulu k0ntol suamiku sepertinya hanya sampai depan meqi lalu keluar” jawabnya sambil terengah-engah dan tersenyum
“Waahh aku dapat Janda tp perawan nih” candaku
“Mas, tadi dikeluarkan di dalem ya” tanyanya dgn muka khawatir

“Iya nur, abis kakimu masih mengapit pinggulku padahal aku udah ngga tahan” jawabku
“Lalu kalo aku hamil bagaimana” tanyanya sambil matanya menitikkan air mata
“Aku akan bertanggung jawab sayang. Apalagi aku sudah butuh pendamping sepertimu” kataku pelan
“Makasih ya mas, nur bahagia banget malam ini” katanya
“Aku juga, walau kamu menolak pada awalnya” kataku

“Abis aku takut. Kata temenku saat malam pertama katanya sangat sakit” katanya
“Itu berarti suaminya yg nggak mahir bercinta” candaku
“Kalo mas udah sering ya ngelakuin ini” tanyanya
“Hanya 3 kali ama pacarku dulu sampai dia lulus dan pulang ke Kalimantan” jawabku berbohong

“Makannya sudah ahli memuaskan perempuan….” katanya sambil tersenyum
“Dan pacar mas pasti senang karena burung mas besar dan panjang, sampe kerasa penuh mamekku” tambahnya
“Tp kamu suka kan…..?” tanyaku
“He..he…he….sekarang sudah genap status jandaku, tdk perawan lagi…” katanya sambil tersenyum

Sambil bercakap-cakap, k0ntolku sudah mulai tegang lagi karena nur mengosok halus k0ntolku. Dan akupun lalu mencium bibirnya yg tipis dan disambutnya dgn ciuman yg ganas. Setelah nur aku rangsang kembali, perlahan nafsunya mulai naik dan meqinya mulai basah. Segera lidahku menyapu meqinya yg masih ada sedikit cairannya dan menghisap clitorisnya yg sudah membesar.

Setelah puas menjilati meqinya, aku lalu tidur terlentang dan aku suruh nur di atas. Tangannya membimbing k0ntolku memasuki liang meqinya yg sudah banjir. Baru setengah k0ntolku masuk terasa agak susah masuk lagi. Tanganku lalu memegang pantat nur agar lebih terbuka dan menyuruhnya memutar pinggulnya. Sebentar kemudian seluruh k0ntolku masuk dlm meqinya yg sangat sempit.

nur kemudian menggerakkan badannya naik turun dan tanganku memegang toketnya yg menantang serta memilin pentilnya. Beberapa kali wajahnya aku tarik untuk mencium bibir tipisnya dan beberapa kali pula jari tanganku menggosok clitorisnya hingga membuat nur keenakan



“Massss……….k0ntolmu besar banget…akuuu..nggaa tahannn…” kata nur sambil menggerakkan badannya
“Meqimu juga sempit banget nurs….” Desahku

Baru lima menit nur bergoyang diatasku, tubuhnya mengejang dan ambruk diatas tubuhku. Meqinya menjepit dan menyedot k0ntolku dgn kuat disertai dgn remasan tangannya di kedua pentilku. Aku membiarkan nur meresapi orgasmenya dan sebentar kemudian aku suruh nur menungging.

“Masss…jangan dimasukin disitu…kotorr….” kata nur yg ketakutan kalo aku menyodominya
“Ngga sayang, kamu santai saja” jawabku

Aku lalu memasukkan kembali k0ntolku dlm meqinya yg banjir dan sambil memilin pentil toketnya yg menggantung bebas

“Ahh…masss…enak bangetttt……..” katanya ketika sodokanku mulai lancar dan cepat
“nur…aku sayang kamuu…” kataku
“Aku juga sayang mas Gun….” Katanya
“Plok…plok…plok….” Suara pangkal k0ntolku beradu dgn pantat nur yg bulat dan seksi

Lama-lama sodokanku semakin cepat dan 10 menit kemudian nur mengalami orgasmenya kembali

“Ahh….massss…aku keluarr……laaaa…ggiiiii..” jerit nur sambil meremas ujung bantal dgn kuat.

Kembali k0ntolku dijepit dan disedot kuat oleh meqinya dan sebentar kemudian nur ambruk dan aku yg masih tanggung lalu merebahkan tubuhnya dan aku atur dgn posisi miring. Kemudian aku menyodok lagi meqinya dgn mengangkat salah satu kakinya ke pundakku. Sekitar 10 menit meqi nur aku sodok dgn cepat, nur kemudian kembali merasakan orgasmenya lagi. Dia meremas bantal di depannya.

“Oohh……massss……aku keluaarrr…” Desah nur pelan

Aku yg mulai merasakan adanya dorongan spermaku untuk dikeluarkan segera menaiki tubuh dgn posisi misionaris. Dan aku segera menyodok meqinya dgn cepat. Sekitar 5 menit kemudian, spermaku sudah tdk dapat ditahan lagi dan akhirnya 6 semburan spermaku mengisi meqi nur.

“Aku…keee..luuaaarrrr…….” teriakku

Saat spermaku mulai menyembur, aku rasakan nur kembali mengalami orgasme. Tangannya mencakar punggungku dan kakinya mengapit pahaku. Akhirnya setelah puas menyemburkan spermaku, aku tidur disamping nur yg sudah lemas tak berdaya. Tanganku memeluk erat tubuhnya dan nafas kami yg terengah-engah terdengar di seluruh kamar.

Hujan yg tdk kunjung berhenti sangat membantu suasana percintaan kami, dan tdk mungkin tetanggaku tahu bahwa kami sedang bercinta. Sempat aku lihat jam dinding yg menunjukkan pukul 12 malam. Berarti kami telah bercinta hampir 2,5 jam. Setelah itu kami tertidur pulas tanpa pakaian yg menempel.

Semenjak itu kami sering bercinta dan memuaskan birahi kami. Agar tdk hamil, nur teratur minum pil KB. Kami juga sering bereksperimen birahi dan semua tempat menjadi tempat bercinta kami dari ruang tamu, kamar, dapur dan halaman belakang. Cuman di halaman depan saja yg kami hindari karena takut kepergok tetangga.

Tontonan Gratis Dari Teman Yang sedang Menikmati Tubuh Mulus Dan Vagina Legit Pembantu Semoknya

6:02 PM 3 Comments


DUNIA121.Awalnya aku mengira cerita dedi tentang hal-hal yang berbau ngentot cuma bualan belaka. Betapa tidak, sebagai remaja yang baru menginjak usia 18 tahun, cerita pengalamannya soal sex jauh melampaui usianya. Bahkan bisa dibilang tidak wajar.

Teman sekolah yang sejak 2 bulan terakhir menjadi teman akrabku itu, mengaku sering bersetubuh dengan wanita pembantu di rumahnya. Wanita itu adalah tetangganya yang diminta menangani pekerjaan dapur dan bersih-bersih rumah. Usianya 43 tahun, punya suami dan punya 2 orang anak. Tetapi menurut dedi, melakukan hubungan seks dengan wanita yang jauh lebih tua, rasanya jauh lebih nikmat.

“Aku pernah melakukannya dengan Sani. Itu, bekas pacarku yang anak SMA V, tetapi hambar dan kurang hot,” kata dedi suatu hari.

dedi juga mengaku sering mengintip ibunya. Saat mandi atau saat tertidur di kamarnya. Menurut dedi, usia ibunya sudah 46 tahun jadi lebih tua tiga tahun dibanding pembantu yang sering digarapnya itu. Tetapi bentuk tubuhnya tak kalah aduhai. Makanya ia sering berangan-angan untuk bisa melakukan yang sama terhadap sang ibu. Hanya sejauh ini dedi belum pernah melakukannya.

Penasaran dengan cerita-cerita panasnya itu, ketika ia mengajakku menginap di rumahnya di saat liburan aku langsung menyambutnya. Sekaligus untuk membuktikan dan untuk melihat ibu serta pembantu yang sering diceritakannya.

Ternyata dedi bukan pembual seperti yang semula kukira. dedi bukan hanya sangat akrab dengan Bi Ani wanita yang menjadi pembantu di rumahnya. Tetapi dari gerak-gerik keduanya bisa diyakini mereka punya hubungan khusus. Hal itu terlihat saat Bi Ani masuk ke kamar dedi untuk membawakan teh hangat dan kue. Dengan atraktif dedi menepuk-nepuk pantat wanita itu saat ia tengah menghidangkan minuman di atas meja.

“Terima kasih ya Bi Ani yang sexy,” ujar dedi sambil mengerlingkan matanya ke padaku.

Ia tidak hanya menepuk tetapi berusaha meremas pantat bahenol wanita itu. Bi Ani mungkin agak risih diperlakukan begitu di hadapanku. Tetapi ia tidak marah. “Mas dedi memang suka nakal mas. Wong orang sudah tua kok dibilang sexy,” ujarnya tanpa mencoba menepis tangan dedi yang terus menggerayangi pantatnya.

Memang Bi Ani tidak hanya sexy seperti yang dikatakan dedi. Menurutku, ia juga sangat merangsang. Buah dadanya besar menantang dan pantatnya padat membusung. Itu tidak disangsikan karena terlihat jelas dari bentuknya yang tercetak pada kain panjang yang ketat membungkusnya. Bahkan nampaknya ia juga tidak mengenakan celana dalam karena tidak kulihat garis yang membentuk bentuk pakaian dalam wanita pada kain panjang yang membalut busungan pantatnya.

“Bener kan Did, ia benar-benar hot. Tadi dia juga nggak pakai CD lho. Mungkin karena memeknya suka kegerahan kalau pakai CD ya?,” timpal Rudi setelah Bi Ani keluar kamar.

Gairahku jadi ikut terbakar. Terpicu oleh apa yang baru kulihat dan membuat anganku menerawang jauh. Membayangkan bentuk tubuh Bi Ani bila dalam keadaan tanpa busana. Bahkan, tanpa kusadari, si otong di selengkanganku ikut berekasi. Ah, andai tak sedang di rumah dedi pasti sudah kukocok seperti yang biasa kulakukan selama ini untuk menyalurkan hasrat seksualku.

Sebenarnya selama ini aku sering melakukan onani. Dan wanita yang paling sering menjadi obyek fantasiku adalah ibuku sendiri. Terlebih setelah mengintip dia mandi atau bertelanjang di kamarnya. Namun aku tidak berani menceritakannya pada dedi, takut dicemooh olehnya. Namun setelah melihat langsung apa yang dilakukannya pada Bi Ani dan keinginannya untuk bisa menikmati tubuh ibunya, suatu saat aku ingin menceritakannya pula.

Sedangkan obyek fantasiku yang lain, adalah Yu Darsih, wanita tetanggaku. Janda beranak dua yang membuka kios sembako di dekat rumah dan juga pandai memijat itu, di samping suka memakai daster tipis merangsang, bentuk bodinya juga aduhai menggoda. Padahal, usianya sudah tidak muda lagi, sekitar 47 tahun nyaris sama dengan usia ibuku. Maka aku suka berlama-lama di kiosnya saat membeli rokok atau keperluan lainnya.

“Did, kamu pengin lihat Bi Ani telanjang? Aku mau kerjain dia di dapur. Gara-gara pegang-pegang pantatnya aku jadi terangsang nih. Nanti susul aku ya, tapi tunggu sekitar 5 menit,” ujar dedi sambil ngeloyor keluar kamar.

Meski dedi memintaku menunggu lima menit sebelum aku menyusulnya, perintahnya tak kuindahkan. Aku ingin melihat yang dilakukannya pada Bi Ani dari awal adegan. Hingga baru sekira dua menit setelah dedi keluar kamar, dengan berjingkat aku menuju ke dapur. Di sana, dedi tampaknya tengah mencoba mencumbu dan merayu wanita pembantunya itu.

Bi Ani yang tengah sibuk menggoreng tempe dan tahu, dipeluknya erat oleh dedi dari belakang. Bahkan tidak hanya memeluk, kedua tangannya terlihat pula sibuk meremasi tetek Bi Ani dari luar baju kebaya yang dikenakan wanita itu. “Jangan ah…, nanti temen Mas dedi melihat,” kata Bi Ani.

Tetapi ia tidak mencoba menepis tangan anak majikannya. Malah kuyakin ia menikmatinya.Aku tahu karena mata Bi Ani merem melek oleh remasan tangan dedi pada teteknya. Bahkan ketika dedi melepaskan kancing-kancing pada kebaya yang dikenakannya, Bi Ani juga tak mencegahnya. Ia biarkan dedi mengeluarkan buah dadanya yang besar dari kutang hitam berenda yang menyangganya.

Memang sudah berumur. Namun bentuk buah dada Bi Ani kuakui masih cukup bagus. Putih mulus dan membusung dengan bagian yang merah kecoklatan melingkar mendekati putingnya yang mencuat. Kedua puting susu Bi Ani itulah yang kini menjadi sasaran dedi. Dengan tetap mendekapnya dari belakang, ia memilin-milinnya perlahan hingga wanita itu mendesah dan menggelinjang dalam pelukan dedi.

Sambil tetap meremasi tetek pembantunya, tangan dedi yang lain meliar ke bawah. Mengelus perutnya, lalu merayap turun mencoba menyelusup ke balik kain panjang yang dipakai wanita itu. Sepertinya dedi ingin menyentuh memek Bi Ani tanpa membuka kain panjang yang melilit tubuh wanita setengah baya itu. Namun karena gerakan tangan dedi agak tergesa, kain panjang itu jadi terlepas.

Sebenarnya Bi Ani dengan reflek telah berusaha menyambar kain panjangnya yang terlepas karena ulah anak majikannya. Namun terlambat, kain panjang motif batik yang telah agak lusuh itu terjatuh ke lantai. Jadilah tubuh bagian bawah wanita yang menurut dedi bersuamikan Mang Sarno, penarik beca yang masih tetangganya menjadi telanjang bulat.

“Ih Mas dedi, apa-apan sih. Bibi nggak pakai celana dalam nih..,” ujar Bi Ani.

dedi tahu, protes pembantunya itu hanya di mulut saja. Buktinya, ia tidak menepis tangan anak majikannya ketika bagian paling rahasia miliknya mulai digerayangi. Oleh dedi, kemaluan Bi Ani yang membusung langsung diraba dan diusap-usapnya. Ia melakukan itu sambil menggesek dan menekan-nekan penisnya yang masih terbungkus CD ke pantat Bi Ani yang membulat padat. Jakunku jadi turun naik melihat adegan panas yang dipertontonkannya.

Tidak seperti ibuku yang selalu mencukur habis rambut yang tumbuh pada memeknya. Bi Ani membiarkan jembutnya tumbuh di sana. Hanya rambut pada kemaluan wanita itu tergolong tipis dan jarang. Aku bisa melihat itilnya diantara celah bibir kemaluannya yang sudah agak berkerut karena jari tengah tangan dedi mencolek-coleknya. Itilnya yang terlihat mencuat, ukurannya juga lumayan besar dan menonjol. Ah, penisku jadi ikut mengeras disuguhi pemandangan yang sangat merangsang itu.

Sejauh itu, Bi Ani tidak bereaksi. Ia tetap pada kesibukannya menggoreng tempe dan tahu untuk menu makan siang. Namun ketika dedi berjongkok di antara kedua pahanya dan mulai menciumi memeknya, nampaknya ia mulai menikmati.

“Ahhh… ssshhss… memek bibi diapakan mas? Ahhh… enak banget …. ssshhhsss,” Bi Ani mulai mendesah seiring dengan juluran lidah dedi yang mulai menyapu ke bagian dalam lubang memeknya.

Sambil terus mendesah menahan nikmat, Bi Ani mengangkat kaki kanannya dan ditumpukan pada sandaran kursi yang ada di dekatnya. Rupanya ia bermaksud memberi kesempatan anak majikannya agar bisa lebih mudah mengerjai memeknya dengan mulutnya.

Melihat itu, dedi tidak menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan pembantunya. Ia tidak hanya sekedar menyapukan ujung lidahnya ke lubang nikmat Bi Ani yang kini terbuka menganga. Tetapi itil Bi Ani yang mencuat di sela lubang memeknya pun ikut diobok-oboknya. Dijilat dan sesekali dicerucupi dan dihisap-hisapnya.

Tubuh Bi Ani jadi mengejang. Rupanya, tak tahan menahan nikmat oleh hisapan mulut dedi pada itilnya, kerjaan dapurnya jadi diabaikan. Tempe goreng yang masih ada di penggorengan tak sempat diangkatnya dan dibiarkan gosong.

“Aahh … enak bangat Mas dedi. Iya terus hisap itil Bibi, ahh… ssshhhh…. ooohhhh,” ia melenguh sambil memegangi kepala anak majikannya dan berusaha menekan ke selangkangannya.

Aku makin panas dingin melihat adegan yang tengah berlangsung. Terlebih ketika Bi Ani mulai meremasi sendiri kedua teteknya sambil merasakan nikmatnya aksi obok-obok mulut anak sang majikan pada memeknya. Aku jadi makin kelabakan. Risleting celanaku terpaksa kupelorotkan agar penisku leluasa mengembang karena celana jins yang kupakai memang cukup ketat. Kurasakan penisku kian tegang dan mengeras.

dedi akhirnya menghentikan aksinya menghisapi memek wanita itu setelah mulutnya basah oleh lendir yang keluar dari dalam memek Bi Ani. Kalau diteruskan, pasti Bi Ani memperoleh orgasmenya di atas mulut dedi. “Bi, bibi ambil kasur kecil dulu deh di gudang,” kata dedi.

“Kita mainnya di sini? Kan ada teman Mas dedi. Nanti kalau dia ke dapur gimana?”
“Nggak bakalan Bi. Tadi dia udah tidur kok. Ayo dong Bi, udah kepengen nih,” kata dedi lagi sambil mengusap-usap memek Bi Ani dan membelai jembutnya.

Saat Bi Ani keluar mengambil kasur di gudang, dedi menghampiriku yang bersembunyi di balik almari tempatku mengintip.

“Gimana Did, tubuh Bi Ani benar-benar mantap kan? Memeknya juga enak banget dientotin,” ujarnya.

Menurut cerita dedi, nafsu Bi Ani sebenarnya sangat tinggi. Namun Mang Sarno yang seharian mengayuh becak, saat pulang agaknya sudah kecapaian hingga kurang memiliki tenaga untuk memuaskan sang istri. dedi mengaku, ia berhasil meniduri sang pembantu setelah sempat mengajaknya nonton film BF di kamarnya beberapa bulan lalu.

Permainan panas itu berlanjut setelah Bi Ani menggelar kasur di lantai dapur. Tadinya Bi Ani bermaksud merebahkan tubuh dan mengangkang setelah kasur tergelar. Mungkin karena nafsunya yang sudah memuncak. Namun dedi mencegah. Ia meminta Bi Ani berjongkok dan dedi langsung menyorongkan penisnya ke mulut wanita itu.

Bi Ani tahu, anak majikannya ingin meneruskan pemanasan sebelum permainan yang sebenarnya berlangsung. Maka diawali dengan menjilat-jilat ujung penis dedi yang tegak mengacung, Bi Ani akhirnya memasukkan penis dedi ke dalam mulutnya. Menghisap dan menjilat-jilatkan ujung lidahnya ke kepala penis dedi.

Bahkan tidak hanya itu, biji-biji pelir penis dedi juga tak luput dari jilatan dan cerucupan mulut Bi Ani. Lidah wanita itu terus meliar, mengusap dan menjelajahi setiap inchi kemaluan anak majikannya. Tubuh dedi tampak mengejang. Mungkin menahan nikmat yang tak tertahan.

Dari tempatku mengintip, adegan yang dipertontonkan dedi dan pembantunya membuat nafsuku kian terbakar. Betapa tidak, Bi Ani yang tengah mengulum penis dedi, posisinya berjongkok menghadap padaku. Hingga aku bisa melihat dengan jelas bagian paling pribadi miliknya yang terbuka. Memek Bi Ani benar-benar menganga dengan itil yang kemerahan mencuat menantang. Ah, nikmat benar kalau diberi kesempatan membenamkan penisku di lubang nikmat itu. Rasanya gimana ya? Begitu aku membatin sambil mengelus penisku yang telah mengeras meminta penyaluran.

Payudara wanita separo baya yang bentuknya seperti buah pepaya agak menggelantung itu juga terlihat bergoyang-goyang seiring dengan gerakan tubuh pemiliknya. Alhasil birahiku kian tak terbendung dan tubuhku menjadi panas dingin menahan syahwat yang makin menggelegak.

Puncaknya, dedi meminta Bi Ani menghentikan kuluman dan hisapan pada penisnya. Lalu ia mengambil posisi terlentang di kasur yang telah tergelar di lantai dapur. Maka Bi Ani tahu, sang anak majikan meminta dirinya berada di posisi atas dalam puncak persetubuhan yang hendak dilakukan.

Bi Ani pun mengambil ancang-ancang. Dengan kedua kaki berada di antara tubuh dedi, ia berdiri tepat di atas pinggul anak laki-laki majikannya. Saat ia menurunkan tubuh dan nyaris dalam posisi berjongkok, wanita berpantat lebar itu terlihat menggenggam dan mengelus penis dedi yang tegak mengacung. Lalu kepala penis dedi diusap-usapkan ke lubang memeknya yang menganga. Akhirnya,… bless penis dedi masuk membenam ke liang nikmat Bi Ani seiring dengan diturunkannya pantat wanita itu.

Mungkin merasa nikmat oleh adanya penis dedi yang melesak di dalam lubang memeknya, menjadikan Bi Ani terdiam sesaat. Ia mengerang perlahan. Sementara dedi, sambil merasakan nikmatnya jepitan memek pembantunya kedua tangannya mulai bergerilya. Payudara wanita seusia ibunya itu diremas-remasnya dan sesekali puting-putingnya dipelintir dengan jari-jarinya. Ulahnya itu membuat Bi Ani kelojotan dan merintih menahan nikmat.

“Bi, Mang Sarno suka ngisep tetek bibi nggak,” ujar dedi sambil terus meremasi susu Bi Ani.
“Ih Mas dedi kok nanya-nanya begituan sih,”
“Ah pengen tahu saja. Jawab dong Bi?” Kata dedi lagi.
“Dia mah kalau lagi tidur sama bibi suka langsung. Boro-boro pegang atau ngisep tetek bibi. Mungkin karena kecapaian narik becak,” jawab Bi Ani.

Mendengar jawaban itu dedi kian meningkatkan remasannya pada buah dada Bi Ani. Bahkan sambil tetap telentang, tangannya juga meliar ke bawah perut wanita itu dan mengusap memeknya yang tengah tertembus batang zakar miliknya. Dirangsang sedemikian rupa, gairah Bi Ani kian memuncak. Wanita itu mulai menggoyang-goyangkan pantatnya hingga penis dedi yang ada di dalam memek Bi Ani serasa diperah oleh jepitan otot-otot memek wanita pembantunya.

Sesekali Bi Ani juga merubah gerakannya. Masih dalam posisi di atas, ia menaik-turunkan pantatnya. Dalam posisi gerakan seperti itu, nafsuku benar-benar kian terbakar. Betapa tidak , aku bisa melihat dengan jelas gelambir daging kemerahan yang keluar dari memek Bi Ani saat wanita itu mengangkat tubuhnya dan tertarik oleh penis dedi. Batang penis dedi dan memek Bi Ani terlihat sangat basah oleh cairan yang keluar hingga menimbulkan bunyi ceplok.. ceplok yang sangat merangsang. Apalagi tetek gede wanita itu juga ikut bergoyang indah. Ah ingin rasanya ikut bergabung untuk meremasi susu yang menantang itu.

Gairah keduanya kuyakin kian mendekati puncaknya ketika gerakan yang dilakukan makin tak teratur. Gerakan naik turun tubuh Bi Ani makin cepat dan dengus nafasnya kian keras terdengar diiringi erangan-erangan tertahan. Sementara dedi mengimbangi dengan membuat gerakan memutar pada bagian bawah tubuhnya. Hingga hujaman penisnya ke memek Bi Ani menjadi semakin cepat.

“Ssshhhh …ahhh…ahh .. Memek bibi enak banget disodok penis Mas dedi. Auhh… terus mas sodok terus. Ahh.. ahh bibi nggak tahan,”
“dedi juga suka banget ngentot sama bibi. Memek bibi kayak ngisep. Terus goyang pantatnya bi. Iya bi … akkhhh…. ssshhh ..aakhhh enak baanget bi, oohhh,” timpal dedi sambil mengobok-obok memek Bi Ani dan mencongkel-congkel kelentitnya hingga membuat wanita itu kian kelabakan dan suara rintihannya makin menjadi.

Puncaknya, Bi Ani mengangkat lebih tinggi tubuhnya dan lalu kembali menjatuhkannya dengan gerakan lebih cepat. Setelah penis dedi kembali menerobos masuk ke lubang nikmatnya, ia menggoyang pantatnya dengan goyangan memutar yang sangat kencang. Sekejap setelah itu, tubuhnya tampak tergetar menandakan ia telah mencapai orgasmenya.

“Auuuww… aohh… ohhh bibi keluar mas. Enak banget mas,… aahh.. sshhh… shhh …. ohhhh,”
“Saya juga hampir nyampai bi. Ayo bibi terus goyang, ah .. ahhh… shh,”

Rupanya, Bi Ani masih menikmati sisa-sisa puncak kenikmatan dari orgasme yang baru diperolehnya hingga ia tak segera merespon permintaan anak majikannya. Hal itu membuat dedi makin kesetanan. Ia terus menggerak-gerakan bagian bawah tubuhnya sambil meremasi tetek wanita pembantunya.

Merasa respon yang diharapkan tak kunjung didapat, dedi membalikan tubuh hingga Bi Ani terguling. Saat itulah, saat wanita pasangannya terbaring mengangkang di kasur yang digelar di lantai dapur, dengan buas dedi langsung menerkamnya. Penisnya diarahkan ke lubang memek Bi Ani yang kian basah oleh lendir yang membanjir. Maka sekali genjot amblaslah batang penis dedi di kedalaman meme Bi Ani.

“Auw.. jangan kenceng-kenceng mas. Memek bibi sakit.. nih,”

Tepi dedi tak peduli. Gerakan naik turun tubuhnya di atas tubuh Bi Ani bukannya melemah tetapi makin dipercepat. Bahkan tiap ujung penisnya hendak masuk ke lubang memek wanita itu, ia sengaja menyentaknya hingga terobosan di lubang memek ibu yang telah melahirkan dua anak itu seakan menghujam cepat.

Perubahan terjadi pada diri Bi Ani. Ia yang sebelumnya memprotes karena merasa sakit pada lubang memeknya, nampaknya mulai terbangkitkan kembali gairahnya. Sambil menikmati sogokan penis anak majikannya ia mulai menggoyang-goyang dan memutar-mutar pantatnya. Maka kembali dedi merasakan penisnya diperah oleh jepitan memek istri Mang Sarno.

“Iya bi… aahh…ah..ah… ssshhhh…. enak banget bi. Terus goyang bi…aahhh …sshhh…shhh … akkhhhh … saya hampir nyampai bi, aahhhh,”
“Iya Mas dedi,… tapi jangan dikeluarin dulu. Memek bibi juga mulai enak dan hampir nyampai lagi. Tahan dulu ya.. aakkkhhh …. ssshhh… shhh… ahhhhh… ahhhh,” Bi Ani mulai merintih dan mengerang lagi.

Pergumulan pasangan yang usianya berbeda cukup jauh itu kian tak terkendali. Tubuh keduanya terlihat basah, banjir oleh peluh yang keluar. Sampai akhirnya, kedua kaki Bi Ani terlihat membelit ke pinggang dedi yang terus menghujam dan menusukkan batang penisnya di lubang memek wanita pembantunya. Lalu pantat Bi Ani membuat gerakan memutar yang sangat kencang. Saat itulah kudengar erangan cukup keras dari mulut dedi dan Bi Ani yang sangat keras dan dalam waktu yang hampir bersamaan. Rupanya keduanya telah sama-sama mendapatkan puncak kenikmatannya hingga tubuh dedi ambruk ke dalam pelukan Bi Ani.

Tadinya aku berniat kembali menyelinap ke kamar dedi. Tapi karena dedi buru-buru bangkit dan langsung masuk ke kamar mandi, aku jadi mengurungkan niatku itu. Bi Ani yang akhirnya bangkit dan tengah berusaha membereskan kasus yang habis dipakainya untuk bersebadan kubuat kaget oleh kemunculanku yang tiba-tiba telah berada di hadapannya.

“Ee… maaf bi… bibi lagi ngeberesin kasur. Mas Adid mau kemana?” Kata Bi Ani sambil berusaha menutupi memeknya.
“Saya mau ambil minum bi. dedinya mana,” ujarku sambil terus menatapi tubuh telanjang wanita paro baya yang masih sangat merangsang tersebut.

Bi Ani benar-benar menjadi salah tingkah di hadapanku. Tapi karena baju dan kain panjangnya cukup jauh dari jangkauannya ia tak berani mengambil untuk menutupi tubuhnya yang telanjang bugil. Ia baru merasa terbebas setelah aku mengambil sebotol air dari kulkas beserta gelas dan kembali ke kamar dedi. Hanya seulas senyum yang sengaja kutebar, pastilah membuat ia bertanya-tanya.